Steve Jobs, Inspirasinya Patut Dikenang atau Dirawat?

Ada asap pasti ada api. Bagaimana bisa berasap kalau apinya saja tidak ada? Yah ungkapan ini sama artinya dengan pertanyaan yang saya jadikan judul artikel ini. Steve Jobs, Inspirasinya Patut Dikenang atau Dirawat? Pertanyaan ini tidak akan pernah ada kalau tidak ada sebabnya. Semua pasti sudah tahu penyebabnya. Yah, seorang yang telah berjasa mengubah perilaku dan gaya hidup hampir seluruh orang di dunia ini telah berpulang. Dia meninggal dunia ketika ide briliantnya atau lebih tepat disebut karyanya sedang merajai pasar dan menjadi impian banyak orang.

Steve Jobs, dia bukanlah seorang pemimpin negara, bukan seorang aktivis lingkungan atau orang yang gemar mengurus hak asasi manusia. Dia juga bukan seorang bintang panggung musik yang dikenal dimana-mana. Dia sebenarnya orang sederhana, memiliki sosok yang biasa saja namun dengan gampang dan dalam waktu singkat berhasil menarik perhatian dunia. Dan tahukah anda jika sebenarnya Steve Jobs ini datang dari dunia yang mungkin seumur hidup tak pernah terlihat hangat menyapa? Yah, dia datang dari dunia yang hanya bermakna komersial: TEKNOLOGI.

Walaupun demikian, sungguh merupakan sebuah keindahan ketika tiba-tiba saja seluruh penjuru bumi serempak kompak mengibarkan bendera setengah tiang atas kepergian pria 56 tahun itu pada Rabu lalu (5 Oktober 2011) untuk selamanya. Kita seolah sadar betapa besarnya kekuatan sebuah ide yang pada awalnya dicemooh namun ketika di satu masa bisa mengubah cara hidup seorang  bahkan menyatukan dunia.
Steve Jobs
Steve Jobs berhasil menarik perhatian kita karena dia mampu membuat sebuah peranti teknologi yang sebenarnya sudah dikenal luas namun berkat kreatifitasnya berhasil menjadi sesuatu yang amat personal. Gadget di tangan pria ini menjadi lebih dari sekadar sesuatu yang bersifat fungsional. Ketertarikannya yang begitu besar terhadap desain yang elegan, estetis, efisien, serta berjalan beriringan dengan penjalanan zaman membuat kita merasa semua basil karya pria berdarah Syria itu sungguh sangat mengerti yang dibutuhkan banyak orang.

Muaranya, kita pun merasa menjadi suatu bagian dari komunitas besar yang melintasi batas geografis maupun etnisitas. Tanpa sadar, kita pun seperti bergandengan tangan dengan mereka yang mungkin sehari-hari berseberangan secara ideologi ataupun iman.

Jobs melakukan itu semua tanpa harus mengobral pidato, apalagi memberikan janji dan pada akhirnya hanya tinggal janji. Kekuatannya hanya pada keberaniannya untuk mencoba, tanpa khawatir untuk gagal. Pada diri Steve Jobs, kita melihat kejujuran. Kesederhanaannya dalam berpakaian yang menggambarkan gambaran dirinya sendiri yang apa adanya. Karena itu ketika dia berbicara, ketika dia memperkenalkan hasil kerjanya, kita pencaya. Meski, karya-karyanya selalu di atas harga rata-rata produk sejenis.

Padahal, dia sebenarnya bukan seorang engineer. Kuliahnya juga putus di tengah jalan, tidak juga berasal dari keluarga dan keturunan kaya raya. Produk-produk yang ditelurkannya juga bukanlah kategori “dari tidak ada menjadi ada’. Dia hanya mengembangkan yang sudah ada. Namun, dengan kemauan bekerja, kemauan menempatkan diri pada posisi orang kebanyakan, berbagai gadget yang dihasilkannya pun begitu bisa mewakili apa yang dibutuhkan onang.

Sekarang coba lihatlah sekeliling kita. Di mana pun kita berada, berapa banyak tokoh, dan bidang apa saja yang bisa demikian menginspirasi? Begitu mengerti apa yang sebenarnya kita butuhkan?

Atau malah kita menjadi khawatir, jangan-jangan tidak ada. Kita di Indonesia misalnya, sudah sedemikian “muak” dengan mereka yang duduk di pemerintahan, para wakil rakyat, serta tokoh-tokoh agama. Mereka berteriak di televisi dan koran tentang sesuatu yang “jauh di langit”, bukan sesuatu yang menjejak bumi yang kita butuhkan sehari-hari.
new apple logo

Mereka berbicara tentang pemberantasan korupsi, tapi mereka sendiri yang justru jadi penggarong. Mereka juga meributkan bagaimana orang mesti berpakaian sementara kemiskinan dan kelaparan masih di mana-mana. Tapi, tak pernah ada kata terlambat untuk melakukan perbaikan. Steve Jobs juga bisa mengembangkan produk-produk Apple menjadi seperti sekarang ini pun setelah sempat mengalami masa-masa terdepak, dicemooh bahkan dianggap remeh. Namun dia bangkit, berkreasi, berinovasi, tanpa takut kembali gagal, tanpa jeri kepada kritik dan kecaman, hingga akhirnya bisa mengubah dunia.

Kenyataan sekarang adalah Steve Jobs telah pergi. Orang yang memiliki ide briliant, yang sempat mengubah gaya hidup berbagai orang di dunia telah pergi untuk selamanya. Tapi, inspirasi dari pria briliant ini semestinya terus dirawat, oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja.

Selamat Jalan Steve.. Good bye Jobs…

Disadur dan Direwrite Alakadarnya Dari :
Surat Kabar Harian Jawa Post
Sabtu, 8 Oktober 2011 (kolom opini, tanpa nama penulisnya)

Terima Kasih Kunjungannya
Info Menarik Lainnya:

Related Posts:

2 Responses to "Steve Jobs, Inspirasinya Patut Dikenang atau Dirawat?"

  1. aku pengen menjadi pinter seperti oom steve, pengen nyari dolllar seperti oom ancis dan om wie

    ReplyDelete
  2. @2212061877135137255.0

    Muhammad Azamsyah? waahhhh jangan2 ini nama buah hatinya ya Bang??? whew TKP akh...

    ReplyDelete

Don't Spam

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *