Berdamailah, atau Beri Kesempatan Pada Yang Lain

Berdamailah atau Beri Kesempatan Orang Lain
Beberapa hari belakangan, kita disuguhkan berita hangat seputar diangkatnya Roy Suryo menjadi Menteri Pemuda dan Olah Raga menggantikan menteri sebelumnya yang mengundurkan diri; Andi Mallarangeng. Selamat ya Pak, memang tidak banyak permintaan dari kami untuk bapak menteri. Hanya sedikit harapan agar bapak menteri bisa mengakhiri konflik yang sedang melanda kepengurusan sepak bola nasional selama ini. Paling tidak hal ini bisa memberikan angin segar untuk kita semua.

Semua orang tahu pasti, prestasi dan kepengurusan sepak bola nasional selama ini secara jujur harus kita akui sangat mengecewakan. Hampir seluruh lapisa masyarakat merasa kecewa lantaran karena seperti yang kita ketahui sepak bola merupakan satu-satunya cabang olahraga yang popular di Indonesia. Semua orang menggemarinya bahkan memiliki penggemar yang fanatik. Walaupun banyak yang menyukainya namun jika prestasinya mengecewakan, apa yang bisa dibanggakan?
timnas Indonesia
Barangkali kita masih bisa membela diri atas merosotnya preastasi ini. Pola pembinaan kita masih kalah jauh jika dibandingkan dengan negara lain. Untuk bisa berprestasi itu obatnya adalah bekerja dengan giat serta kompaknya sebuah tim. Tetapi bagaimana kalau kekompakan itu sudah tidak ada?

Inilah yang menjadi persoalan super rumit yang sedang kita hadapi. Kekompakan hampir tidak ada. Kalau ada pun perlu kita pertanyakan. Sengaja saya katakan kalau tidak adanya kekompakan itu terjadi itu secara umum. Antara pengurus dan pemain atau skala besar maupun skala kecil kekompakan itu tidak pernah ada. Bayangkan, pada level kepengurusan dan kompetisi saja kita sangat “hebat”. Ada dua lembaga juga dua kompetisi yang keduanya tersebut berbeda aliran. Hebat, bukan? Pada areal kepengurusan misalnya, kita memiliki dua kepengurusan. Ada yang menyebutnya PSSI dan satunya adalah KPSI. Masing-masing menggelar kompetisi berbeda. Dengan [by bangancis] ketidakkompakan pada level pengurus ini saja efeknya lumayan bikin runyam. Tingkat bawah otomatis akan ikut terbelah juga termasuk para pemain, terpecah belah baik sikap mapun pikiran. Jika sudah begini, barangkali prestasi apa yang bisa kita raih dengan situasi berantakan seperti ini? Hanya keajaibanlah jawabannya. Tapi dari mana? Dari Hongkong?!!!

Kita seharusnya malu dengan beberapa Negara tetangga yang prestasi sepakbolanya kian berkembang setiap tahunnya. Sepak bola itu bisa berprestasi jika ada pembibitan yang serius di masyarakat dan merupakan jebolan dari kompetisi yang mengakar. Kalau masalah bibit pemain, Indonesia ini kaya raya!! Kita termasuk dari negara dengan penduduk sebanyak 240 juta. Jumlah ini menempati urutan 4 secara Internasional. Memalukan sekali jika dengan begitu melimpahnya jumlah penduduk kita tidak mampu mencari dan membina 11 – 22 orang pemain sepak bola yang berkualitas. Apanya yang kurang?
timnas sepak bola indonesia
Kepengurusan! Walaupun kita kurang dalam hal profesionalisme dan skill individu, namun bagaimana kita bisa berubah menjadi professional dan memiliki skill yang handal jika pengurusnya saling terkam satu dengan lainnya?

Jadi, marilah dengan sukarela kita mengalahkan keegoisan demi kepentingan nasional. Kepada para pengurus semoga segera hentikan semua konflik demi Negara. Saya yakin, seluruh masyarakat Indonesia akan tersenyum bangga, gembira dan mengacungkan jempol jika kalian para pengurus yang bertikai saat ini mau berjabat tangan, bergandengan, menyatukan [by bangancis] diri untuk kepentingan Negara. Atau jikalau enggan untuk mengakhiri konflik, diharapkan semuanya bersedia rela untuk mundur. Agar bisa terbentuk pengurusa baru yang lebih memihak pada kepentingan Nasional. Ingat, sepak bola mampu memberi sumbangan yang amat sangat penting bagi kita, terutama rasa bangga bernegara. Yah, Rasa Bangga Bernegara!!! Sekali lagi, Berdamailah, atau Beri Kesempatan Pada Yang Lain untuk mengurus.

Kutipan :
Presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln, begitu memenangi pemilihan presiden, Lincoln justru mengajak William H Seward, rival politiknya yang paling keras—yang sudah berhadapan dengannya selama bertahun-tahun—untuk bergabung sebagai secretary of state di dalam kabinet Lincoln dan memimpin Amerika Serikat.

Sewaktu Lincoln bertanya kepada Seward apakah ia mau bergabung, Seward malah balik bertanya dengan kaget: ”Kenapa Anda memilih saya? Anda tahu saya tidak suka kepada Anda?”

Dijawab oleh Lincoln: ”Memang saya tahu Anda tidak suka saya, dan benar saya juga tidak suka Anda. Akan tetapi, saya tahu Anda cinta Amerika Serikat. Kalau demikian, kenapa kita tidak bersama-sama bekerja untuk Amerika Serikat?”

Related Posts:

0 Response to "Berdamailah, atau Beri Kesempatan Pada Yang Lain"

Post a Comment

Don't Spam

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *