Bunyi Sengau Dalam Bahasa Melayu Larantuka

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa asal usul Bahasa Indonesia yang kita gunakan saat ini adalah dari bahasa Melayu, khususnya Melayu Riau. Artinya, bahasa yang dipakai untuk berkomunikasi sebelum masa Sumpah Pemuda 1928 adalah Bahasa Melayu. Membanggakan memang, selama sekian ratus tahun Bahasa Melayu menjadi satu-satunya bahasa “penghubung” orang-orang di Nusantara, khususnya para pedagang. Nah, Setelah Indonesia merdeka, bahasa Melayu Riau disepakati menjadi bahasa nasional namun sebelum itu mengalami beberapa perubahan, perbaikan dan penyempurnaan. Hasilnya adalah Bahasa Indonesia EYD yang kita kenal saat ini.

Meski Bahasa Indonesia sudah resmi kita gunakan sebagai bahasa Nasional, namun Bahasa Melayu di beberapa daerah tetap menjadi bahasa keseharian masyarakatnya. Bahasa Melayu jenis ini sedikit berbeda dari Melayu asli karena sudah melalui proses metamorfosis yang panjang lalu menjadi beberapa sub-bahasa Melayu. Di Manado, Ambon, Kupang, Larantuka dan Papua memiliki sub-bahasa Melayu sendiri menurut dialek dan versinya masing-masing, dan masih lestari hingga saat ini.
Kenapa Larantuka yang berada jauh di ujung timur pulau Flores bisa memiliki bahasa Melayu sementara kita tahu bahwa bahasa Melayu adalah bahasa di semenanjung Malaka?
Kapal Motor, Transportasi Antar Pulau di Flores Timur dan Lembata
Begini... Selain karena bahasa Melayu merupakan bahasa penghubung Nusantara kala itu, juga karena dipengaruhi oleh para pengungsi dari Malaka. Ketika Malaka berhasil direbut Belanda dari tangan Portugis tahun 1641, dan Larantuka merupakan satu-satunya wilayah kekuasaan Portugis terdekat, maka sebagian besar pengungsi dari Malaka melarikan diri ke Larantuka. Nah hasil percampuran budaya (akulturasi) Melayu, Portugis dan Lamaholot (budaya asli Larantuka) inilah yang melahirkan sub-bahasa Melayu Larantuka.

Kita kembali ke topik....
Karena saya sendiri berasal dari Larantuka, maka kali ini saya sedikit mencolek beberapa kesalahan dalam penulisan sub-bahasa Melayu Larantuka, Flores Timur lantaran sub-bahasa Melayu Larantuka (juga bahasa Lamaholot, bahasa daerah Flores Timur) ini memiliki sedikit keunikan. Seperti judul tulisan ini, sub-bahasa Melayu Larantuka ini memiliki beberapa kosa kata yang dalam pengucapannya berakhiran sengau (suara hidung). Bahasa jenis ini berawal (induknya) di Kota Larantuka lalu tersebar ke Desa Wureh, Lewolaga, Hokeng - Boru, Lewoleba dan beberapa tempat lainnya.
Salah Satu Peninggalan Portugal
Sengau? Huruf macam apa itu?
Sebenarnya gampang solusi untuk menemukan huruf apa yang mewakili bunyi sengau. Untuk diketahui, bunyi sengau itu berasal dari huruf m, n, ng dan ny. Namun untuk orang Larantuka ketiga huruf sengau ini tidak 100% disebutkan seperti sub-bahasa Melayu Manado, Kupang atau Ambon.

Jika orang Ambon menyebut “torang” (kita; kami orang) lengkap dengan huruf ‘ng’ maka orang Larantuka sedikit berbeda meskipun sama. Huruf ‘ng’ tidak disebut tapi diwakili bunyi sengau (mengambang) dari hidung. Hal ini juga berlaku dalam bahasa daerah Flores Timur, Lamaholot yang beberapa kosa katanya juga berakhiran bunyi sengau, misalnya kata “Lein Wanan” (kaki kanan). Huruf ‘n’ di akhir dua kata tadi juga tidak 100% disebut. Hanya diwakili bunyi sengau dari hidung.
Di seberang tampak kota Larantuka
Nah, dari sedikit penjelasan di atas, yang ingin saya kritisi adalah cara penulisan kata-kata berakhiran sengau ini. Di era sosmed seperti saat ini, banyak teman-teman yang salah kaprah. Dengan ketidaktahuannya mereka menulis saja kata-kata yang dalam pengucapannya berakhiran sengau tanpa huruf sengau (m, n, ng dan ny) di Facebook maupun twitter. Kata “Torang” di tulis ‘Tora’ dan “Lein Wanan” ditulis ‘Lei Wana”. Kalau sudah seperti ini maka tidak dipungkiri kata dan kalimat tersebut berubah makna. Tora bisa menjadi Sudiro dan Lei Wana menjadi rayap anu.... Hahahaa...

Karena itu, saya minta teman-teman yang berasal dari Flores Timur; mari kita pelajari lebih dalam bahasa kita sendiri selain Bahasa Indonesia. Janganlah sok pakai logat Jawa atau Jakarte dan lain sebagainya sampai lupa tata cara penulisan bahasa sendiri seperti apa. Logat Jawa dan Jakarte boleh saja asal audiensmu orang-orang dari sana, tapi kalau sebaliknya, bagaimana?

Mari Kita Belajar.... Jangan lupa ketika hendak menulis status, usahakan sisipkan juga huruf-huruf sengau di kata-kata yang pengucapannya berbunyi sengau, oke?

Terima Kasih Kunjungannya
Info Menarik Lainnya:

Related Posts:

12 Responses to "Bunyi Sengau Dalam Bahasa Melayu Larantuka"

  1. serius saya jadi ga fokus sama tulisannya karna potonya bagus banget T.T

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaa... thanks bro...

      Delete
    2. kamera mahal...getoo.


      bayar cicilannya yang tertib bang

      Delete
  2. bahasa melayu ya tempatnya di asia tenggara kayak di sini. tapi bahasa indonesia tetap jadi bahasa nasional sebagai bhs dan identitas negara ini. mantap deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Bro... Itulah Indonesia...

      Delete
    2. Cilembu....indonesia nggak sih?

      Delete
    3. Indonesia juga Mang... kan cuman ada di Indonesia.. di Desa Cilembi...

      Delete
  3. Lein Wanan berarti cara bacanya "leing wanang" gitu ya mas? biar jadi sengau.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tetap brow, aslinya kan sudah ada huruf senngau yang mewakili... cuman bunyi huruf n tidak disebut tapi digantikan dengan bunyi sengau dari hidung...

      Delete
  4. bahasa Melayu yang ada di ujung Flores itu dibawa oleh wan abud kayanya ya, ketika itu wan abud berdagang sekaligus mencari istri ke 5 orang Larantuka, anak cucunya itulah yang mengembangkan bahasa Melayu disonoh....gituh kata sayah mah...mang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaa.. saya koq penasaran ya Mang?? Siapa si Abud?? Yang ente ente itu ya Mang??

      Delete
  5. bunyi sengau atau suara hidung jadi ingat guru ngaji pernah bilang dengan sebutan "dengung"
    huruf hijaiyah mim bertemu ba membacanya mimmba ... bagian mm nya agak didengungkan

    ReplyDelete

Don't Spam

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *