Asus Setop Bisnis Smartphone: Nasib Zenfone dan ROG Phone Kini di Ujung Tanduk

BANG ANCIS - Kabar itu datang seperti sambaran petir di siang bolong. Sebuah pengumuman resmi dari raksasa teknologi Taiwan, Asus. Mereka menyatakan bisnis smartphone-nya masuk masa hiatus, tanpa batas waktu yang jelas. Ini bukan hanya sekadar guncangan, tapi sebuah epilog bagi sebuah lini produk yang punya penggemar fanatik. Apa sebenarnya yang terjadi di balik pintu tertutup markas Asus?

Mengapa Keputusan Ini Terjadi?

Health
Gambar dari Pixabay

Industri smartphone adalah palagan yang kejam. Hanya pemain dengan napas terpanjang dan modal tak terbatas yang bisa bertahan. Asus, meski memiliki reputasi kuat di sektor laptop dan komponen PC, ternyata kesulitan menaklukkan pasar ponsel. Mereka harus bersaing dengan Samsung, Apple, dan gelombang raksasa dari Tiongkok.

Margin keuntungan di segmen smartphone kelas menengah sangatlah tipis. Untuk bersaing, butuh biaya pemasaran yang luar biasa besar. Asus sudah berjuang keras selama bertahun-tahun melalui lini Zenfone. Mereka mencoba berbagai formula, dari yang murah meriah hingga premium yang ringkas.

Sayangnya, daya gedor merek ini di pasar global tidak pernah setara dengan pesaing utamanya. Konsumen sering kali lebih memilih merek yang sudah mapan namanya. Para eksekutif tentu sudah menghitung matang semua kerugian dan prospek masa depan. Keputusan berat ini diambil setelah melihat data penjualan yang tidak kunjung membaik.

Mengapa harus hiatus? Ini adalah cara paling elegan untuk menarik diri dari pasar yang berdarah-darah. Mereka tidak mengatakan 'menyerah', tapi 'berhenti sejenak' tanpa janji kembali. Ini memberi ruang untuk merelokasi sumber daya dan keahlian yang dimiliki. Fokus kini diarahkan ke sektor yang lebih menguntungkan.

Fokus bisnis mereka tetap di komputer gaming, laptop tipis, dan komponen PC. Di situlah keahlian sejati Asus berada dan mendominasi. Bisnis ponsel ternyata menjadi penguras energi dan uang. Lebih baik berani mengambil keputusan daripada terus-menerus merugi.

Jejak Zenfone yang Ikonik

Kita tidak bisa melupakan bagaimana Zenfone pernah mencuri perhatian dunia. Zenfone menawarkan pengalaman yang unik bagi penggunanya. Mereka berani tampil beda dalam hal desain dan inovasi. Zenfone 6, misalnya, dikenang karena mekanisme kamera putarnya yang revolusioner.

Mereka memberikan otoritas pada pengguna untuk memaksimalkan kamera depan dan belakang dengan satu modul. Lalu ada Zenfone 8 dan Zenfone 9 yang fokus pada dimensi ringkas. Di saat semua produsen berlomba-lomba membuat ponsel raksasa, Asus malah memilih jalur miniatur. Mereka memberi kenyamanan bagi pengguna yang rindu ponsel kecil.

Desain ringkas ini adalah salah satu kredibilitas terbaik yang ditawarkan Asus. Mereka menunjukkan bahwa ponsel premium tidak harus berukuran besar. Para teknisi di balik Zenfone memiliki pengalaman mumpuni. Mereka tahu betul bagaimana menyusun komponen berkelas dalam bodi mungil.

Namun, keunikan itu tidak cukup untuk memenangkan pasar yang haus volume. Inovasi seringkali dibayar mahal dalam biaya produksi. Sementara itu, konsumen global lebih memilih spesifikasi yang 'aman' dan desain yang 'umum'. Zenfone menjadi korban dari pasarnya sendiri yang terlalu spesifik.

Kini, dengan pengumuman hiatus ini, semua inovasi itu terhenti. Para pemilik Zenfone terakhir tentu bertanya-tanya, bagaimana nasib pembaruan perangkat lunak mereka. Ini adalah konsekuensi logis dari sebuah pengunduran diri yang mendadak.

Nasib Lini Gaming ROG Phone

Ketika Asus berbicara tentang bisnis smartphone, ada dua lini utama yang mereka miliki. Pertama Zenfone yang kini dihentikan. Kedua adalah Republic of Gamers Phone, atau ROG Phone. Lini ini adalah ponsel gaming kelas atas yang sangat niche.

Bagaimana nasib ROG Phone? Ini adalah pertanyaan besar yang muncul kemudian. Pihak Asus memberikan indikasi bahwa lini ROG Phone kemungkinan besar akan tetap berjalan. Mengapa? Karena ROG Phone memiliki pangsa pasar yang berbeda.

Pasar ponsel gaming sangat spesifik, didominasi oleh keahlian teknis. Ponsel ini ditujukan untuk hardcore gamer yang membutuhkan performa maksimal. Di sini, Asus memiliki otoritas merek yang kuat. Mereka sudah dikenal sebagai raja di dunia laptop dan komponen gaming.

Kepercayaan diri ini didukung oleh pengalaman panjang mereka merancang pendinginan dan kinerja ekstrem. Namun, meskipun diklaim akan tetap ada, awan gelap tetap menyelimuti masa depan ROG Phone. Bisnis induknya sudah menyatakan hiatus. Apakah lini gaming ini bisa bertahan sendirian tanpa dukungan penuh dari divisi ponsel standar?

Siapa yang bisa menjamin kelangsungan produksinya di masa depan? Kredibilitas sebuah produk ponsel sangat bergantung pada kontinuitas. Jika lini standar sudah tumbang, sinyal untuk lini gaming pun menjadi lemah. Investor dan konsumen akan melihat ini sebagai risiko.

Saat ini, stok ROG Phone yang ada mungkin masih dijual. Tapi kita harus menunggu bagaimana Asus merespons pasar yang terus berubah. Bisnis teknologi memang penuh kejutan, tapi ini adalah kejutan yang pahit. Sebuah era sudah berakhir. Kini tinggal menunggu, akankah Asus benar-benar kembali, atau hiatus ini menjadi perpisahan abadi.

Source: arstechnica.​com



#Asus #Zenfone #BisnisSmartphone

Belanja Celana Boxer Cowok dan Cewek
LihatTutupKomentar
Cancel