BANG ANCIS - Sebuah pertempuran baru sedang terjadi di Inggris. Ini bukan tentang politik atau ekonomi, melainkan tentang teknologi dan anak-anak. Para orang tua dan kelompok advokasi kini maju ke pengadilan. Mereka menuntut sesuatu yang radikal: larangan nasional untuk smartphone di sekolah.
Ini bukan lagi sekadar himbauan dari kepala sekolah. Ini sudah menjadi urusan pengadilan tinggi. Para penggugat merasa lelah melihat anak-anak mereka menjadi korban gawai. Mereka ingin negara campur tangan secara tegas.
| Gambar dari Pixabay |
Krisis Kecanduan di Kelas
Dulu, masalah di sekolah adalah permen karet atau sepatu yang salah. Sekarang, masalahnya adalah layar kecil di saku. Ponsel pintar telah merasuk terlalu dalam ke kehidupan belajar. Ia menjadi sumber utama distraksi dan kecemasan.
Coba lihat keahlian para guru. Mereka bersaksi di kelas, sulit sekali menjaga fokus siswa. Setiap notifikasi adalah undangan untuk mengalihkan pandangan. Proses belajar yang seharusnya intens, kini terpecah belah oleh getaran di meja.
Ini adalah masalah pengalaman yang dihadapi jutaan orang tua. Anak pulang sekolah, bukannya bercerita tentang pelajaran, malah sibuk mengecek media sosial. Kualitas tidur menurun, interaksi tatap muka menghilang. Smartphone memang alat komunikasi, tapi di lingkungan sekolah ia jadi penghalang.
Ancaman Nyata Kesehatan Mental
Argumen utama dalam gugatan ini adalah kesehatan mental. Ponsel telah menjadi senjata baru dalam kasus perundungan siber (cyberbullying). Ancaman itu tidak berhenti saat bel sekolah berbunyi. Ia terus berlanjut di grup WhatsApp atau Instagram.
Otoritas para ahli kesehatan setuju dengan ini. Mereka melihat peningkatan kasus depresi dan kecemasan pada remaja. Kebutuhan untuk selalu "tersedia" secara digital menciptakan tekanan tak berkesudahan. Sekolah seharusnya menjadi zona aman, bukan arena pertarungan digital.
Orang tua kini menuntut kredibilitas dari pemerintah. Mereka ingin Departemen Pendidikan mengambil sikap. Mengapa harus menunggu korban berjatuhan lebih banyak? Aturan nasional yang seragam dianggap sebagai satu-satunya solusi yang adil.
Langkah Hukum Menargetkan Kebijakan Nasional
Lalu, bagaimana gugatan ini berjalan? Siapa yang digugat? Para penggugat tidak hanya menuntut sekolah tertentu. Mereka secara spesifik menargetkan Menteri Pendidikan. Tujuannya adalah memaksa pemerintah mengeluarkan pedoman yang mengikat secara nasional.
Saat ini, aturan tentang ponsel di Inggris masih bersifat "discretionary". Itu artinya, setiap kepala sekolah punya kebijakan sendiri. Ada sekolah yang melarang total, ada yang membolehkan di jam istirahat. Keragaman inilah yang dianggap menciptakan ketidakadilan dan celah.
Pemerintah sudah mengeluarkan beberapa panduan. Tapi panduan itu dianggap terlalu lunak. Itu hanya berupa saran, bukan larangan keras yang punya gigi. Para penggugat menuntut agar larangan itu berlaku untuk semua sekolah negeri di seluruh Inggris.
Pengalaman dari Negara Lain
Ini bukan hanya masalah di Inggris saja. Prancis sudah lebih dulu menerapkan larangan total. Beberapa negara bagian di Amerika Serikat juga mulai bergerak. Pengalaman global menunjukkan, ketika gawai dilarang, konsentrasi siswa membaik.
Tentu ada yang keberatan. Mereka bertanya, bagaimana jika ada keadaan darurat? Bagaimana siswa bisa menghubungi orang tua? Ini adalah argumen klasik yang selalu muncul.
Jawaban dari para pendukung larangan itu lugas. Telepon kantor sekolah dan telepon umum masih ada. Keadaan darurat tidak bisa dijadikan alasan untuk mengorbankan pendidikan dan mental ribuan anak. Prioritas harus kembali ke ruang kelas.
Masa Depan Tanpa Layar di Sekolah
Gugatan hukum ini akan menjadi tonggak penting. Ini adalah upaya serius pertama di Inggris untuk mengatur teknologi secara masif di lingkungan pendidikan. Hasilnya akan menentukan nasib ribuan anak di tahun-tahun mendatang. Ini pertaruhan besar antara kebebasan digital dan perlindungan anak.
Keputusan pengadilan akan memberikan otoritas baru. Apakah Menteri Pendidikan harus tunduk pada tuntutan ini? Apakah mereka harus merumuskan kebijakan yang keras? Kita akan segera tahu.
Intinya sederhana. Anak-anak ke sekolah untuk belajar dan berinteraksi. Bukan untuk sibuk mengurus ponsel mereka. Jika alat yang seharusnya membantu malah merusak, maka itu harus disingkirkan. Itulah inti dari gugatan yang kini mengguncang sistem pendidikan Inggris.
Source: washingtonpost.com
#LaranganSmartphone #SekolahInggris #KesehatanMentalAnak

