Melacak Gerak-gerik Anda: Bisnis Gelap ID Iklan dan Ancaman Pengawasan Digital

BANG ANCIS - Ponsel di saku kita ternyata adalah mata-mata paling setia. Ia merekam setiap langkah kaki, setiap kali kita berhenti, bahkan setiap ketukan di layar. Kita semua tahu aplikasi butuh izin, tapi kebanyakan dari kita tidak membaca. Kita hanya mengklik 'setuju' dan membiarkan data mengalir deras. Data itu, yang dianggap sepele, kini menjadi komoditas sangat mahal. Di balik setiap iklan yang muncul, ada jaringan gelap yang bekerja tanpa henti. Mereka bukan sekadar ingin menjual sabun, melainkan menjual diri kita.

ID Rahasia di Saku Anda

Health
Gambar dari Pixabay

Setiap gawai pintar memiliki kode pengenal unik. Di perangkat Apple, namanya IDFA atau Identifier for Advertisers. Sementara di Android, ada AAID atau Android Advertising ID. Ini adalah kunci digital kita, tersembunyi, namun sangat aktif. ID ini memungkinkan pengiklan menargetkan kita dengan akurat. Kita melihat iklan sepatu setelah kita mencari sepatu. Itu semua berkat ID ini.

Namun, ID tersebut bukanlah identitas tetap seperti nomor KTP. Kita bisa meresetnya. Masalahnya, mereset IDFA atau AAID hanya akan memulai siklus baru pelacakan. Data kita sebelumnya sudah terlanjur direkam. Perusahaan pengumpul data, yang sering disebut broker data, mengumpulkan informasi dari ribuan aplikasi berbeda. Mereka mencocokkan data lokasi, riwayat penelusuran, dan kebiasaan pembelian kita. Semuanya berdasarkan ID unik itu.

Jejak Digital yang Diperjualbelikan

Broker data sangat rakus. Mereka tidak hanya mengumpulkan data satu kali. Mereka membeli dan menjual data lokasi pengguna secara real-time atau hampir real-time. Bayangkan, setiap kali Anda membuka aplikasi yang menampilkan iklan, data lokasi Anda mungkin sedang dilelang. Data tersebut kemudian dikemas menjadi paket-paket profil. Isinya detail tentang siapa kita, ke mana kita pergi, dan apa yang kita sukai.

Inilah inti dari bisnis pengawasan modern. Profil yang sangat detail ini kemudian dijual ke berbagai pihak. Sebagian besar memang untuk keperluan iklan. Namun, sebagian lainnya jatuh ke tangan yang lebih gelap. Ini bisa jadi entitas yang bergerak di bidang pengawasan atau keamanan. Mereka menggunakan ID iklan ini untuk memantau individu. Mereka bisa melacak pergerakan seseorang dari satu kota ke kota lain, dari satu rapat ke rapat lain.

Perusahaan Pengawasan Masuk Garis Depan

Perusahaan pengawasan digital tidak lagi perlu meretas ponsel kita. Mereka cukup membayar broker data. ID Iklan telah membuka pintu belakang bagi mereka. Mereka membeli akses ke data lokasi yang anonim secara teori. Namun, dalam banyak kasus, data lokasi tersebut sangat mudah untuk di-de-anonymize. Cukup dengan melacak pola pergerakan, identitas seseorang akan terungkap.

Pola pergerakan sehari-hari adalah sidik jari digital kita. Pergi bekerja, pulang, ke sekolah anak, ke tempat ibadah. Ketika pola ini dicocokkan dengan basis data publik atau bahkan informasi kecil lainnya, anonimitas akan hilang. Nama, alamat, dan pekerjaan kita dapat dengan cepat dikaitkan dengan ID iklan yang tadinya 'buta'. Ini adalah lubang keamanan yang sangat besar. Privasi kita menjadi ilusi.

Dampak Nyata di Dunia Maya

Pelacakan melalui ID iklan ini adalah ancaman serius terhadap kebebasan sipil. Jika entitas pemerintah atau pihak berwenang dapat membeli data ini tanpa surat perintah, konsep privasi menjadi runtuh. Mereka bisa melacak aktivis, jurnalis, atau siapa pun yang mereka anggap mengganggu. Mereka tidak perlu lagi alat penyadap canggih. Data periklanan sudah cukup.

Situasi ini menjadi lebih rumit karena regulasi sering tertinggal. Di Eropa, ada GDPR. Di Amerika Serikat, ada undang-undang yang berbeda-beda. Namun, celah dalam rantai pasokan data ini masih lebar. Data terus mengalir melintasi batas negara. Kita, sebagai pengguna, merasa aman, padahal kita sedang diawasi. Kita tidak tahu kapan data kita diubah menjadi alat pengawasan.

Mengambil Kembali Kendali

Kesadaran adalah langkah pertama. Kita harus mulai bersikap paranoid terhadap izin aplikasi. Mengapa aplikasi senter butuh izin lokasi? Mengapa game sederhana harus mengakses daftar kontak? Kita harus lebih sering mereset ID Iklan kita. Di pengaturan privasi ponsel, opsi itu biasanya tersedia.

Pemerintah juga harus bertindak tegas. Perlu regulasi yang secara spesifik menargetkan broker data. Praktik memperdagangkan data lokasi harus dibatasi. ID Iklan adalah sebuah inovasi, tetapi ia telah disalahgunakan. Ia telah berubah dari alat pemasaran menjadi alat pengawasan massal. Sudah saatnya kita menuntut transparansi penuh. Kita harus menjadi tuan di rumah kita sendiri, bukan sekadar komoditas yang diperdagangkan. Kita harus menuntut akuntabilitas dari perusahaan teknologi. Ini bukan lagi soal kenyamanan, ini soal hak asasi.

Source: lemonde.​fr



#PelacakanPonsel #DataIklan #PrivasiDigital

Belanja Celana Boxer Cowok dan Cewek
LihatTutupKomentar
Cancel