Sehatkah Jiwa Kita Tanpa Smartphone? Uji Coba Analogue Sebulan: Lebih Tenang atau Justru Stres?

BANG ANCIS - Ponsel pintar adalah cermin kehidupan. Kita membawanya kemana-mana. Ia menjadi asisten pribadi, bank, perpustakaan, hingga mesin hiburan kita. Semua ada di genggaman tangan.

Namun, ketergantungan ini membawa cerita tragis. Seorang penulis di London, baru-baru ini mengalami hal itu. Dua pria berpenutup wajah mencoba merampoknya di jalan.

Health
Gambar dari Pixabay

Mereka mengendarai motor dan naik ke trotoar. Penulis itu sama sekali tidak sadar kejadian tersebut. Matanya terkunci pada pesan teks di layar ponselnya.

Tangannya mencengkeram ponsel begitu kuat. Ia tidak sempat berusaha meraihnya. Kesadaran baru muncul setelah seorang wanita tua berteriak.

Motor itu meluncur kembali ke jalan. Anginnya menyapu tubuh si penulis. Peristiwa itu membuka mata si penulis, ia sadar ada banyak hal yang terlewatkan.

Sebelum kopi pagi tersentuh, rutinitasnya sudah berat. Ia menonton kehidupan orang lain di Instagram. Mengecek berita utama, lalu membalas pesan.

Ia juga menyapu match di aplikasi kencan. Email kerja dicek dua kali. Semua dilakukan sebelum pagi benar-benar dimulai.

Ia selalu mengandalkan Apple Maps untuk rute tercepat ke kantor. Biasanya, ia sudah terlambat untuk naik bus. Maka, Lime bike disewa via aplikasi.

Saat hari kerja, berbagai meme dikirimkan saudara. Foto perahu kanal diambilnya. Makan siang dibayar dengan Apple Pay.

Perjalanan pulang diisi musik dari Spotify. Ditambah mendengarkan voice note panjang dari teman. Malam dihabisinya dengan zombie-scrolling di Depop dan Vinted.

Keputusan Analogue Sebulan Penuh

Kejadian nyaris perampokan itu mengubah segalanya. Penulis itu memutuskan berhenti. Ia memilih hidup "analogue" selama sebulan penuh.

Ini adalah sebuah eksperimen radikal. Tujuannya mencari tahu apakah tanpa ponsel pintar hidup bisa lebih sehat dan bahagia. Atau malah bertambah stres.

Ia ingin melepaskan diri dari segala distraksi digital. Ini adalah pertarungan melawan candu layar yang mendominasi. Sebuah upaya untuk kembali ke dunia nyata.

Peralatan 'Jadul' di Tangan

iPhone-nya disimpan rapat-rapat. Ia menggantinya dengan perangkat masa lalu. Ada Nokia 'bodoh' untuk telepon dan SMS saja.

Musik didengarkan melalui Walkman. Fotografi kembali ke era analog. Peta fisik yang besar harus dibentangkan setiap kali butuh navigasi.

Minggu pertama penuh dengan kesulitan. Ia harus mengingat rute dan bertanya kepada orang di jalan. Ada rasa cemas yang terus membayangi.

Namun, ia terus melanjutkan. Ia ingat pesan seorang ahli. "Platform teknologi besar didesain untuk membuat ketagihan," kata Kardaras.

Kehidupan Baru: Tenang dan Lebih Bahagia

Setelah seminggu berlalu, tangan mulai tidak gatal. Ia tidak lagi meraih ponsel setiap beberapa menit. Pikiran menjadi lebih tenang.

Rasa bahagia dan damai mulai menyelimuti. Ia terbebas dari siksaan scrolling tanpa akhir. Tidak ada lagi keharusan membalas pesan seketika.

Manfaat di Tengah Rasa Cemas

Hal terpenting: ia mendapatkan kembali kesabaran. Kini ia bisa membaca buku. Malam hari terasa lega.

Tidak ada lagi godaan memeriksa email kantor saat jam santai. Batasan antara pekerjaan dan hidup pribadi kembali tercipta. Keseimbangan hidup pun membaik.

Ia semakin bertekad menghapus semua sumber kecemasan. Aplikasi seperti Depop, Hinge, dan Instagram akan dihapus. Itu adalah sumber utama distorsi mental.

Mencari pakaian bekas di toko amal terasa lebih memuaskan. Ini jauh lebih nyata ketimbang menelusuri layar. Prosesnya menjadi interaksi sosial yang nyata.

Hubungan asmara pun membaik. Kencan tanpa gangguan ponsel terasa jauh lebih mudah. Ia tidak perlu melihat reel Botox gagal atau hewan AI.

Ia belajar bahwa tidak semua komunikasi harus instan. Ada keindahan dalam penantian. Ada kedamaian di luar notifikasi.

Tantangan Logistik dan Dampak Sosial

Tentu saja, ada kerumitan yang muncul. Hidup offline justru merepotkan orang lain. Penulis itu sadar akan hal ini.

Jika mencari tempat makan atau pub, temannya harus turun tangan. Mereka menjadi "petugas peta" dadakan. Penulis tidak bisa memesan Uber.

Semua tergantung pada ketersediaan teman. Ia harus merencanakan segalanya lebih awal. Spontanitas menjadi barang mewah.

Meski frustrasi sesekali muncul, ia merasakan kerugian itu. Kerugian yang tidak terhindarkan dari hidup yang sepenuhnya modern. Kerugian bagi orang lain.

Namun, keuntungan pribadinya tidak terbantahkan. Ia lebih bahagia dan tenang. Kehidupan itu nyata, bukan maya.

Hari ke-31 tiba, eksperimen berakhir. Penulis itu merasa sedikit sedih. Ia merindukan ketenangan yang baru didapat.

Kehidupan analogue itu mengganggu kenyamanan. Tetapi juga menyembuhkan. Ia menemukan titik keseimbangan baru.

Mungkin tidak perlu sepenuhnya analogue. Cukup hilangkan distraksi yang sengaja dirancang membuat kita kecanduan. Dunia nyata jauh lebih berharga.

Source: theguardian.​com



#detoksdigital #hidupanalogue #kesehatanmental

Belanja Celana Boxer Cowok dan Cewek
LihatTutupKomentar
Cancel