BANG ANCIS - Ponsel pintar sudah jadi barang wajib. Hampir semua orang punya. Masalahnya, kini ponsel itu juga sudah jadi barang wajib bagi anak-anak usia sekolah dasar.
Ini yang membuat Dewan Sekolah Goleta, Amerika Serikat, pusing. Mereka baru saja membahas sebuah resolusi penting. Resolusi ini menyarankan agar orang tua menunda, atau setidaknya mempertimbangkan ulang, pemberian smartphone kepada anak usia sekolah dasar.
Diskusi ini berlangsung pada hari Rabu malam. Goleta Unified School District (GUSD) mengambil langkah tegas. Ini bukan sekadar larangan di kelas. Ini adalah rekomendasi langsung ke keluarga.
Dewan Sekolah melihat ada risiko serius. Risiko ini menghantui tumbuh kembang anak. Mereka ingin melindungi generasi muda dari dampak negatif gawai.
Mengapa Smartphone Jadi Masalah?
Keputusan ini bukan tanpa dasar. Dewan Sekolah mengutip riset kredibel. Ada data dari American Academy of Pediatrics. Ada juga temuan dari Pew Research Center.
Riset ini jelas menunjukkan bahaya laten. Paparan layar berlebihan merusak mental anak. Itu mengganggu kemampuan sosial dan fokus belajar.
Smartphone itu sejatinya komputer mini. Isinya penuh dengan distraksi. Anak-anak kecil belum siap mengelola arus informasi tersebut.
Mereka butuh waktu mengembangkan keterampilan sosial. Keterampilan ini didapat lewat interaksi tatap muka. Bukan lewat emoji atau pesan singkat.
Ancaman di Usia Sekolah Dasar
Data menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Pada tahun 2025, sekitar 57 persen anak Amerika usia 11-12 tahun sudah punya smartphone. Angka ini sangat tinggi.
Artinya, kepemilikan sudah dimulai jauh lebih awal. Bahkan sebelum mereka masuk SMP. Ini menciptakan tekanan sosial yang kuat bagi orang tua lain.
Presiden Dewan Sekolah, Ethan Bertrand, melihat urgensi ini. Dia tahu tidak mudah bagi orang tua. Tapi sekolah merasa harus ambil sikap.
Mereka merekomendasikan alternatif. Ada ponsel dasar atau Gabb phone yang terbatas. Tujuannya agar komunikasi tetap berjalan tanpa fitur internet dan media sosial yang adiktif.
Dilema Besar Dewan Sekolah
Perdebatan di internal dewan cukup alot. Resolusi awalnya lebih keras. Draf pertama bahkan menyarankan agar keluarga tidak memberikan smartphone sama sekali.
Namun, ada kekhawatiran muncul. Dewan Sekolah tidak ingin terlihat mendikte cara orang tua mengasuh anak. Ini sensitif sekali.
Anggota Dewan Richard Mayer khawatir. Dia merasa ini bisa dianggap "policing parenting techniques". Sekolah seharusnya fokus pada pendidikan di dalam kelas.
Pada akhirnya, resolusi itu melunak sedikit. Fokusnya digeser dari "jangan beri sama sekali" menjadi "tunda keputusannya". Ini dianggap lebih jelas dan lebih bersifat preskriptif.
Solusi "Tunggu Kelas 8"?
Gerakan di tingkat akar rumput juga makin menguat. Ada kelompok bernama Goleta Parents for Tech Reform. Mereka aktif mendorong perubahan.
Kelompok ini mempromosikan janji "Wait Until 8th". Artinya, orang tua berjanji menunda pemberian smartphone hingga anak lulus kelas 8.
Para dokter anak juga ikut bersuara. Mereka melihat peningkatan masalah kesehatan mental. Masalah ini berkaitan langsung dengan penggunaan gawai.
Anak-anak kehilangan waktu tidur. Pola makan mereka ikut terganggu. Semua gara-gara layar yang selalu menyala.
Kebijakan Sekolah Yang Sudah Ada
Sebenarnya, GUSD sudah punya aturan ketat di dalam sekolah. Sesuai kebijakan tahunan, siswa tidak diizinkan menggunakan perangkat elektronik di kampus. Ini termasuk smartphone.
Gawai harus dimatikan saat di dalam tas. Tujuannya adalah memastikan lingkungan belajar tetap fokus. Tidak ada siswa yang terganggu notifikasi.
Gubernur California Gavin Newsom bahkan memuji distrik sekolah di Santa Barbara. Pujian itu terkait kebijakan mereka membatasi ponsel. Sekolah melaporkan hasil tes yang lebih tinggi dan kurangnya kasus bullying.
Langkah Dewan Goleta ini melengkapi aturan tersebut. Jika di sekolah gawai dilarang, di rumah pun kepemilikannya harus diatur. Intinya adalah konsistensi.
Kesehatan anak adalah investasi jangka panjang. Sekolah dan orang tua harus sepakat. Memberikan ponsel pintar terlalu cepat bisa jadi beban.
Teknologi memang maju. Tapi kematangan emosi anak harus jadi prioritas. Keputusan Goleta ini adalah sinyal penting. Sinyal bahwa dunia pendidikan mulai melawan dominasi layar.
Source: noozhawk.com
#SmartphoneAnak #KebijakanSekolah #KesehatanMentalAnak

