Pasar Smartphone China Q4 2025 Menciut 1,6%: Apple Pimpin dengan 22% Pangsa Pasar

BANG ANCIS - Ada berita yang membuat banyak kepala pusing di kantor pusat merek-merek ponsel. Pasar smartphone China, yang terbesar di dunia, kembali menunjukkan gejala demam. Pengiriman ponsel di kuartal keempat (Q4) tahun 2025 ternyata menciut 1,6 persen secara tahunan. Ini adalah kabar buruk, tapi ada satu merek yang justru tersenyum lebar.

Satu nama itu adalah Apple. Perusahaan berlogo apel tergigit ini berhasil merebut pangsa pasar terbesar. Mereka menguasai 22 persen dari total pengiriman, sebuah pencapaian yang fenomenal. Bagaimana mungkin merek premium itu bisa memimpin saat pasar secara keseluruhan sedang lesu?

Health
Gambar dari Pixabay

Angka Dingin dari Beijing

Laporan dari Counterpoint Technology Market Research ini memang menarik untuk dibedah. Angka 1,6 persen itu mungkin terlihat kecil. Namun, mengingat basis pengguna dan volume pasar China yang masif, penurunan ini berarti ratusan ribu unit ponsel tidak terjual. Ini menunjukkan adanya kehati-hatian konsumen di tengah gejolak ekonomi yang masih terasa.

Konsumen kini semakin selektif dalam mengeluarkan uangnya. Mereka menunda mengganti ponsel lama jika dirasa belum benar-benar perlu. Siklus penggantian (replacement cycle) ponsel pun menjadi lebih panjang dari sebelumnya. Padahal, bagi industri ponsel, cepatnya siklus penggantian adalah nyawa.

Merek Lokal Tersandung

Penurunan ini paling terasa dampaknya pada merek-merek domestik. Padahal, merek lokal seperti Vivo, OPPO, dan Xiaomi biasanya mengandalkan volume besar. Mereka bertarung sengit di segmen harga menengah dan bawah.

Saat konsumen menahan diri, merek-merek ini paling pertama merasakan gigitannya. Mereka harus bekerja ekstra keras untuk meyakinkan pembeli. Promosi besar-besaran dan margin keuntungan yang semakin tipis menjadi konsekuensi logis.

Mereka juga dihadapkan pada persaingan internal yang brutal. Empat besar merek lokal ini saling sikut di setiap toko dan platform daring. Inovasi yang mereka tawarkan juga mulai terasa seragam, tidak ada lagi "faktor kejutan" yang bisa memicu minat beli instan.

Sementara itu, Huawei menunjukkan tanda-tanda kebangkitan yang lambat namun pasti. Setelah sempat terpuruk akibat sanksi, mereka pelan-pelan membangun kembali ekosistemnya. Namun, kembalinya Huawei belum cukup kuat untuk menopang seluruh pasar China.

Keajaiban Merek Berlogo Apel

Inilah anomali yang paling mencolok dari Q4 2025. Apple tidak hanya bertahan, tetapi justru melesat ke posisi teratas. Mereka mengamankan posisi nomor satu, meninggalkan jauh para pesaingnya. Ini bukan sekadar keberuntungan.

Ini adalah hasil dari strategi yang sangat jitu. Ketika pasar sedang "sakit," konsumen China justru semakin mencari produk yang menawarkan kepastian. Kepastian akan kualitas, fitur jangka panjang, dan citra diri. Produk Apple menawarkan semua itu.

Konsumen kelas atas China, yang daya belinya tidak terpengaruh banyak oleh perlambatan ekonomi, tetap setia. Mereka melihat iPhone terbaru sebagai investasi, bukan sekadar alat komunikasi. Ponsel ini adalah simbol status yang kuat di masyarakat.

Strategi Harga dan Citra

Apple juga lihai bermain di momen-momen tertentu. Peluncuran iPhone baru selalu menjadi peristiwa global yang menarik perhatian. Meskipun harganya selangit, produk ini selalu laris manis saat masa liburan atau promo penjualan besar.

Ketersediaan seri lama dengan harga yang sedikit lebih terjangkau juga membantu. Mereka menjangkau segmen yang ingin "masuk" ke ekosistem Apple tanpa harus membeli model paling mahal. Ini strategi cerdas untuk memperluas basis pengguna tanpa merusak citra premium.

Selain itu, Apple menguasai ekosistem perangkat lunak dan keras yang terintegrasi. Ini menciptakan "pagar" yang sulit ditembus oleh pesaing Android. Begitu pengguna masuk, sulit sekali untuk berpindah ke merek lain, apalagi saat semua perangkat mereka sudah terhubung.

Inovasi teknologi mereka, seperti chip yang sangat bertenaga, juga menjadi daya tarik utama. Di mata konsumen China yang melek teknologi, performa tinggi adalah nilai jual yang tidak bisa ditawar. Mereka rela membayar mahal untuk performa terbaik.

Masa Depan yang Menantang

Pertanyaannya kini, apakah Apple bisa mempertahankan dominasinya? Atau ini hanya kemilau sesaat yang didorong oleh peluncuran produk baru? Pesaing lokal tentu tidak akan tinggal diam. Mereka pasti akan membalas dengan gempuran inovasi dan harga yang agresif.

Tantangan terbesar pasar China ke depan adalah mencapai titik jenuh. Hampir semua orang sudah memiliki smartphone. Pertumbuhan kini bergantung pada pembeli baru atau pengguna yang mengganti ponselnya. Kedua kelompok ini semakin sulit didapatkan.

Merek-merek perlu menemukan cara baru untuk menarik perhatian. Fitur kecerdasan buatan (AI) yang terintegrasi langsung di ponsel mungkin akan menjadi pembeda berikutnya. Siapa yang paling cepat dan cerdas menawarkan fitur AI yang benar-benar berguna, dialah yang akan menang.

Q4 2025 menjadi pengingat pahit bagi pasar ponsel China. Bahkan pasar raksasa pun bisa terserang flu. Namun, di tengah kelesuan itu, Apple membuktikan bahwa kualitas, citra, dan ekosistem yang kuat adalah resep abadi untuk menjadi juara, meskipun hanya sementara. Selalu ada pelajaran dari setiap penurunan.

Source: counterpointresearch.​com



#PonselpintarChina #Pangsapasarsmartphone #ApplediChina

Belanja Celana Boxer Cowok dan Cewek
LihatTutupKomentar
Cancel