BANGANCIS - Kita semua pernah mengalaminya. Jempol bergerak lincah, mata menatap layar, tapi benak kosong. Scroll terus, tanpa tujuan, tanpa hasil. Sebuah ritual modern yang kian merayap dalam kehidupan kita, seiring dengan pesatnya penetrasi gawai di tangan.
Fenomena doomscrolling atau sekadar kebiasaan mindless scrolling ini bukan sekadar hiburan semata. Ia telah menjelma menjadi sebuah perilaku yang memiliki dimensi psikologis mendalam, menyentuh bahkan merusak kesehatan mental kita secara perlahan namun pasti.
| Gambar dari >Pixabay |
Perangkap Piksel: Mengapa Kita Terjebak?
Dunia digital menawarkan banjir informasi dan hiburan yang tak terbatas. Algoritma media sosial dirancang untuk memanjakan mata dan mengunci perhatian kita, menciptakan sebuah siklus adiktif yang sulit dipecahkan.
Doping Dopamin Instan
Setiap notifikasi, setiap like, setiap komentar, mengirimkan lonjakan dopamin ke otak kita, menciptakan rasa senang sesaat. Otak kita pun belajar untuk terus mencari stimulus ini, layaknya pecandu yang mendambakan dosis berikutnya.
Takut Ketinggalan (FOMO)
Dinding media sosial penuh dengan pencapaian orang lain, momen-momen indah, dan berita terkini. Ini memicu rasa takut ketinggalan, membuat kita terus terhubung agar tidak tertinggal informasi atau tren terbaru.
Jejak Digital dan Luka Batin: Dampak pada Kesehatan Mental
Terlalu banyak menghabiskan waktu di dunia maya tanpa kontrol yang jelas, akhirnya meninggalkan jejak yang tak terhapuskan pada kejiwaan kita. Kebiasaan ini tak ubahnya seperti menggoreskan luka kecil namun berulang pada kesehatan mental.
Kecemasan dan Depresi yang Mengintai
Paparan terus-menerus terhadap konten negatif, perbandingan sosial yang tidak sehat, dan rasa kesepian yang justru muncul di tengah keramaian maya, semuanya berkontribusi pada peningkatan tingkat kecemasan dan depresi. Kita merasa hidup orang lain lebih baik, membuat diri sendiri merasa tidak berharga.
Gangguan Tidur dan Fokus yang Tergerus
Cahaya biru dari layar gawai dapat mengganggu produksi melatonin, hormon tidur alami tubuh. Akibatnya, kita kesulitan terlelap, dan kualitas tidur menurun. Selain itu, otak yang terbiasa disuguhkan informasi kilat menjadi sulit untuk fokus pada tugas yang membutuhkan konsentrasi mendalam.
Meredam kebiasaan ini memang tidak mudah, namun bukan berarti mustahil. Langkah kecil seperti menetapkan batas waktu penggunaan gawai, mematikan notifikasi yang tidak penting, dan mengganti waktu scrolling dengan aktivitas lain yang lebih bermakna, bisa menjadi awal yang baik. Menggali kembali hobi lama, berinteraksi langsung dengan orang terkasih, atau sekadar menikmati alam, dapat menjadi penawar ampuh bagi 'penyakit' scroll tanpa henti ini.
Jaga kesehatan mental Anda. Sadari kapan Anda hanya sekadar mengisi waktu dan kapan Anda benar-benar membutuhkan jeda dari dunia digital yang memukau namun terkadang menyesatkan. Pikiran yang jernih dan hati yang tenang jauh lebih berharga daripada deretan konten tak berujung di layar gawai.
#KesehatanMental #MediaSosial #KecanduanDigital

