Bang Ancis

Berbagi Info dan Lifestyle Blogger

18 Okt 2014

Kenapa KPI Menegur Trans TV? Kenapa?

"Kenapa KPI Menegur Trans TV? Kenapa?" Yah barangkali ini sebuah pertanyaan yang muncul dari sebagian masyarakat Indonesia yang mungkin tidak setuju dengan teguran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) kepada salah satu stasiun televisi swasta kita, Trans TV terkait penyiaran acara pernikahan antara Rafi Ahmad dengan Nagita Syalvina Tengker (Gigi) dengan durasi yang panjang baru-baru ini.

Mungkin banyak yang tidak setuju dengan teguran KPI ini. Karena mereka beranggapan bahwa itu haknya Trans TV. Terserah dia mau menyiarkan apa  dan bagaimana selama ditonton oleh banyak orang (meski tidak semua), boleh-boleh saja donk dia menyiarkan acara nikahan ini. Kenapa mesti sewot? Kan banyak channel, tinggal pindah saja ke channel yang lain. Apa susahnya??
Koleksi Foto Pernikahan Rafi Ahmad
Oh ya, menurut informasi, acara nikahan Rafi dan Nagita ini disiarkan dengan jangka waktu yang lumayan panjang sejak 16 Oktober 2014 kemarin. Mungkin karena biaya pernikahan yang menelan biaya hingga miliaran rupiah inilah yang membuat Trans TV tertarik untuk membeli hak siarnya dan disiarkan melalui frekuensinya. Hal ini sebenarnya tidak menjadi masalah selama penggunaan hak siarnya tidak berlebihan dan mengesampingkan kepentingan dan kebutuhan orang banyak akan siaran yang bermutu dan mendidik.

Mereka yang setuju dengan langkah KPI ini menurut saya sebenarnya tidak iri dengan siaran yang super mewah ini. Tidak peduli Rafi dan Nagita mau menghabiskan berapa miliar untuk upacaranya atau pestanya digelar di kota mana saja dan berapa lama pestanya digelar. Semua itu tidak berpengaruh sama sekali! Yang menjadi permasalahan adalah, acara tersebut tidak dinikmati oleh semua orang karena sebagian orang lainnya juga ingin mendapatkan informasi publik sesuai aturan-aturan yang sudah diatur oleh KPI.

Jika sebuah siaran apalagi siaran seputar pernikahan ditayangkan berjam-jam tanpa adanya toleransi untuk pihak lain yang membutuhkan informasi bermutu dan mendidik jelas-jelas salah besar. Kenapa saya katakan salah besar? Jika tidak disalahkan dalam artian cara penyiaran seperti ini dibenarkan maka "berapa lama saluran alias frekwensi milik rakyat umum dimana pembelian steleitnya menggunakan uang rakyat tersebut digunakan hanya untuk menyiarkan sebuah acara pernikahan yang tidak begitu banyak memberi kontribusi bagi rakyat umum?" Memang sah-sah saja stasiun televisi mau menyiarkan apa, tapi semuanya tentu kembali pada kepentingan publik. Iya Nggak??

Berikut petikan surat teguran dari KPI untuk Trans TV :
“Program tersebut disiarkan dalam durasi waksu siar tidak wajar serta tidak memberikan manfaat kepada publik sebagai pemilik utuh frekuensi. Jenis pelanggaran ini dikategorikan sebagai pelanggaran atas perlindungan kepentingan publik,”

Bagaimana Pendapat Sobat Sendiri?
11 Sep 2014

Beberapa Tanggapan Soal Pengunduran Diri Ahok

Beberapa hari belakangan ini kita atau mungkin saya sendiri dihebohkan oleh berita tentang mundurnya Wagub Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dari keanggotaannya di Partai Gerindra. Semua tentu sudah tahu alasan apa yang melatarbelakangi Bapak Ahok mengundurkan diri. Kegaduhan ini tentu tidak terlepas dari niat KMP (Koalisi Merah Putih) yang menguasai DPR sedang getol mengusulkan RUU Pilkada yang intinya Pemilihan Kepala Daerah Melalui DPRD.

Mengenai usulan ini, meski ada plus minusnya antara Pilkada secara langsung maupun melalui DPRD, sontak publik langsung dibuat ribut. Pro dan kontra langsung bersahutan. Puncaknya adalah ketika Wagub DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama ikut melemparkan opininya yang tak lain adalah menolak rencana RUU Pilkada tersebut. Mengenai sikap Ahok ini, saya yakin, mungkin ada alasan-alasan yang masuk akal yang sudah beliau pertimbangkan.
Ahok mundur dari Gerindra
Okelah. Saya rasa pembahasan mengenai pengunduran diri Ahok beserta alasan-alasannya cukup sampai di sini dulu karena sebenarnya yang ingin saya share kali ini adalah tanggapan beberapa oknum atas pilihan sikap yang diambil Ahok. Berikut tanggapan-tanggapan yang berhasil saya himpun :

Tanggapan dari atasannya di Balai Kota Jakarta, Gubernur Jakarta sekaligus Presiden terpilih, Joko Widodo (Jokowi,
Menurut saya, itu sebuah keberanian sikap beliau. Harus dihargai, Pak Ahok pasti merasakan sendiri bahwa pilkada langsung menghasilkan pemimpin yang berkualitas dan demokratis.. #sumber
Tanggapan dari orang yang mencalonkan Ahok di Pilkada Jakarta 2012 sekaligus Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto,
Kalau tahu tata krama (harusnya pamit). Kalau etika antar-manusia, ada norma-norma ya, Kalau masuk suatu partai, mengundurkan diri dari partai (atau) keluar dari partai, itu hak politik. Tidak ada masalah. #sumber
 Tanggapan Ketua DPD Partai Gerindra DKI Jakarta Mohammad Taufik,
Partai kita enggak dagang. Dia (Ahok) harusnya bersyukur. Tanya aja ke Ahok, Gerindra ada minta duit enggak waktu nyalonin dia jadi wakil gubernur. Jadi orang tuh harusnya lebih banyak bersyukur. Kalau mau konsisten, setelah mundur dari partai, mundur juga dari jabatan gubernur. Kan dia bisa jadi seperti sekarang karena partai. Jadi jangan mau enaknya aja.. #sumber
Perlu Ahok tahu dan harus disadari, waktu dia pertama kali mau jadi cawagub itu, enggak ada orang yang kenal. Enggak ada yang tahu. Keluarganya doang yang tahu paling. Gerindra kok yang nyalonin dia jadi wagub. #sumber
Tanggapan Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra Rindoko Dahono Wingit,
Silakan berbeda pendapat, tapi tidak perlu keluar dari partai. Ini kekanak-kanakan, kalau perbedaan di parlemen itu dinamika. Itu hak dia (Ahok) mau masuk dan keluar dari Gerindra, kalau kita kan sangat demokratis.. #sumber
Hidayat Nur Wahid yang saat ini menjadi Anggota Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera (PKS) malah menantang Ahok untuk mundur dari jabatan Wakil Gubernur DKI Jakarta.
Kalau Ahok jantan, seperti yang ditantang Pak Taufik (Ketua DPD Gerindra DKI Jakarta) mundur dari Gerindra, berani enggak Ahok mundur dari Wagub,Jangan cari enaknya saja. Emangnya maju perseorangan? #sumber
Akal akalan setelah kalah pemilu
Sumber, Majalah Detik, Edisi 146, 15 - 21 September 2014, hal. 38
Tanggapan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon,
Kalau benar (Ahok mau mundur), ya itu kita terima, itu pilihan dia. Kapasitas Ahok membicarakan pemilihan kepala daerah oleh DPRD inkonstitusional, itu ngawur. Ahok tidak beretika, tidak mengerti partai. Kontribusi dia di Gerindra kecil, dan orang akan menilai track record dia, ini bukti orang jadi 'kutu loncat'. #sumber
Tanggapan Ketua DPP Partai Gerindra Desmond J Mahesa,
Kita ini ibu yang baik membesarkan anaknya. Biar rakyat yang menilai, anak lupa sama ibunya, ya sudah seperti Malin Kundang. Ahok mau keluar, ya biasa saja, tidak ada kerugian karena kontribusi Ahok di pileg dan pilpres tidak ada.. #sumber
Tanggapan anggota DPRD DKI dari Fraksi Hanura, Wahyu Dewanto,
Pak Ahok ini aset bangsa, politisi hebat, dan berani. Sayang, misalnya disia-siakan begitu hanya karena kepentingan politik sesaat. Saya selaku pengurus DPP Partai Hanura siap menerima Pak Ahok dengan rasa hormat jika misalnya beliau keluar dari partainya, dan ingin masuk ke Hanura. Kami akan mendukung semua pilihan Pak Ahok. Yang penting demi kepentingan rakyat. Intinya, kami dari Hanura siap menerima politisi hebat seperti Pak Ahok untuk bergabung bersama berjuang dengan hati nurani. #sumber
Tanggapan Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Daniel Johan,
Hengkangnya Ahok (Basuki) membuat Gerindra kehilangan politisi berprestasi dan pemberani, Ahok memang seorang politisi pemberani dan langkahnya keluar dari Gerindra untuk mempertahankan prinsip dan keyakinannya patut mendapat apresiasi. #sumber
Tanggapan dari Juru Bicara DPP Partai Demokrat Ruhut Sitompul,
Bagi aku, Gerindra sangat kehilangan. Kalau mau jujur, Gerindra bisa jadi partai tiga besar kalau ada peran Prabowo dan Ahok. Yang sekarang merangin Ahok apa perannya? Gerindra rugi karena sekarang Ahok sudah ditunggu PDI-P, PKB, dan bisa saja partai lainnya. #sumber
Tanggapan dari Politisi Golkar, Ali Mochtar Ngabalin,
Sebagai warga Jakarta, kita boleh dong minta dia jantan untuk mengundurkan diri, Dari wakil gubernur lalu jadi gubernur, sebagai seorang pejabat bermoral, dia harus berhenti dulu, lalu tahun depan masuk partai lagi, #sumber
Itulah beberapa tanggapan orang-orang politik terkait sikap Ahok yang mundur dari Parta Gerindra yang berhasil saya kumpulkan.

Oh ya, ternyata Bapak Ahok tidak sendirian. Ada beberapa Kepala Daerah yang protes dan ikut-ikutan keluar dari partai yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih yang mana Koalisi inilah yang mengusulkan RUU Pilkada. Beberapa kepala daerah yang menolak RUU Pilkada ini adalah Wali Kota Bogor Bima Arya, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) dan wali kota yang tergabung dalam Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) juga ikut mendesak KMP mengurungkan niatnya, Wali Kota Singkawang, Awang Ishak, menyatakan mundur dari Partai Amanat Nasional (PAN) dan masih ada beberapa lagi.

Bagaimana tanggapan sahabat-sahabat pembaca sekalian, dan sebenarnya apa alasan mendasar KMP tiba-tiba saja emngusulkan Undang-undang ini??
27 Agt 2014

Ada Golok di Cover Majalah Tempo

Ada Golok di Cover Majalah Tempo. Sebelumnya saya mohon untuk tidak berlebihan dalam menanggapi tulisan ini, terutama kata goloknya. Tulisan, mulai dari judul sampai isinya plus gambar yang saya pajang hanyalah sebuah ide yang muncul secara tiba-tiba. Karena takut kehilangan ide tersebut plus keinginan untuk mengupdate artikel di blog ini, saya akhirnya memutuskan untuk mempublish tulisan Ada Golok di Cover Majalah Tempo ini, padahal inginnya saya tulisan ini lebih bijak kalau di beri judul Sosok Tanpa Kepala. Tapi sudahlah... sudah terlanjur.

Oh ya, Majalah Tempo adalah majalah berita mingguan Indonesia yang umumnya meliput berita dan politik dan diterbitkan oleh PT Tempo Inti Media Tbk.. Majalah ini merupakan majalah pertama yang tidak memiliki afiliasi dengan pemerintah. (wikipedia). Saya cukup kagum dengan majalah ini karena meskipun tidak memiliki afiliasi dengan pemerintah, majalah ini tergolong cukup berani dan vokal dalam mengkritisi pemerintah. Tercatat, majalah ini pernah 2 kali dibredel oleh pemerintah. Pertama, di tahun 1982, majalah ini dibredel karena dianggap terlalu tajam mengkritik rezim Orde Baru dan kendaraan politiknya, Golkar. Sedangkan yang Kedua adalah pada tahun 1984. Presiden Soeharto melalui Menteri Penerangan Harmoko melarang peredaran Majalah Tempo edisi saat itu karena dinilai terlalu keras mengkritik Habibie dan Soeharto soal pembelian kapal bekas dari Jerman Timur. Akh jadi ingat lagunya Bang Iwan Fals: Celoteh Camar Tolol, he..he..he..

Meski demikian, majalah ini tidak pernah menyerah. Mereka tetap berdiri tegak hingga sekarang dan ngotot mengkritisi pemerintah. Bahkan pada tahun 2010 kemarin majalah ini sempat "bentrok" dengan pihak kepolisian ketika menurunkan berita tentang "Rekening Gendut Perwira Polisi".

Selain berita-berita yang kritis, majalah ini juga tergolong cukup kreatif khususnya bagian design cover. Semua cover majalah tempo selalu ada "sesuatu"nya. Sesuatu di sini maksudnya ada maksud terselubung. Ada yang gampang kita cerna dan pahami, ada pula yang misteri. Dari sekian banyak cover tersebut, ada beberapa yang berisi prediksi atau ramalan. Hal ini terjadi pada Edisi 7 April 2014. Sebelum KPU mengumumkan siapa saja  calon presiden dan calon wakil presiden yang maju dalam putaran pemilu 2014, majalah tempo bahkan sudah meramalkannya melalui ilustrasi covernya. Dan tebakan majalah ini tepat sasaran meskipun ada beberapa yang meleset. (gambar di samping).

Ada Golok di Cover Majalah Tempo
Di edisi terbarunya yang sedang "sedikit" ramai dibicarakan saat ini, Majalah Tempo menampilkan sebuah cover yang lumayan tajam. Di balik judul "Akhir Sebuah Drama" terlihat sosok tanpa kepala, seragam putih yang biasa dipakai Prabowo dan Hatta plus Garuda Merah di saku. Ada juga sebilah golok/Keris di bagian pinggang. Siapapun yang melihat sekilas cover ini tentu langsung tahu jika cover ini ditujukan untuk Prabowo. Ada maksud apakah dengan sosok tanpa kepala ini??

Anda penasaran? Lihat penampakannya berikut ini :
Ada Golok di Cover Majalah Tempo
sumber gambar : kompasiana.com/samandayu
Discalimer :
Sekali lagi judul Ada Golok di Cover Majalah Tempo ini hanya ide mendadak dan tidak bermaksud apa-apa karena memang benar demikian ada golok/keris di cover tersebut. Atau jika ada yang kurang percaya dan mau melihat secara langsung bisa membeli majalahnya edisi akhir Agustus 2014 atau bisa juga mampir ke sini.

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *