Badai Memori Mengintai: Setelah Pesta 2025, Pasar Ponsel Global Dihadang Tantangan 2026

BANG ANCIS - Pasar telepon pintar global baru saja menghela napas lega. Angka pertumbuhan akhirnya muncul setelah masa-masa sulit. Lembaga riset Omdia mengumumkan kabar ini. Pertumbuhan tercatat 2% sepanjang tahun 2025.

Tentu ini kabar baik bagi semua produsen. Mereka yang selama ini menahan inventarisasi bisa sedikit tersenyum. Namun, optimisme itu berumur pendek. Di balik angka 2%, sudah ada awan gelap menunggu di tahun 2026.

Optimisme Tipis di Tahun 2025

Angka 2% memang tipis sekali. Tapi ini lebih baik daripada minus. Tahun 2025 menjadi titik balik setelah beberapa periode kontraksi. Konsumen mulai kembali berbelanja gawai baru.

Banyak orang menunda penggantian ponsel mereka. Siklus penggantian memanjang hingga empat atau lima tahun. Ketika pasar membaik, permintaan yang tertunda itu akhirnya terlepas. Ini yang mendorong pertumbuhan dua persen tersebut.

Perusahaan raksasa seperti Samsung dan Apple masih dominan. Mereka bersaing ketat di segmen premium. Sementara merek Tiongkok terus memimpin di pasar menengah. Mereka menawarkan spesifikasi canggih dengan harga bersaing.

Para vendor pun mulai agresif lagi. Mereka meluncurkan seri baru dengan fitur-fitur AI generatif. Inovasi ini menjadi daya tarik utama. Tujuannya jelas, untuk memancing konsumen segera mengganti ponsel lama mereka.

Keseimbangan yang Rapuh

Pasar memang butuh keseimbangan. Tahun 2025 menunjukkan ada pemulihan permintaan yang sehat. Tetapi, keseimbangan ini sangat rapuh. Semua mata kini tertuju pada persediaan komponen.

Produsen sudah belajar dari masa pandemi. Mereka tidak ingin lagi kelebihan stok. Mereka berhati-hati dalam merencanakan produksi. Tapi ada faktor eksternal yang jauh lebih besar.

Badai Memori Mengintai Tahun 2026

Inilah biang keladinya yang disebut Omdia. Mereka menamakannya "memory headwinds." Ini adalah hambatan atau tekanan kuat dari sisi memori. Terutama chip DRAM dan NAND.

Ini komponen vital bagi setiap ponsel pintar. Chip memori ini harganya fluktuatif sekali. Permintaan yang naik tinggi akan membuat harga melambung. Jika harga komponen naik, produsen ponsel akan terjepit.

Margin keuntungan mereka pasti tergerus. Situasi ini langsung mengancam profitabilitas. Ini menciptakan kondisi yang sangat menantang bagi tahun 2026.

Dilema Harga Komponen

Saat ini, harga memori memang sedang merangkak naik. Ini didorong oleh permintaan dari sektor AI dan server. Sektor-sektor itu butuh memori dalam jumlah sangat besar. Ponsel pintar pun ikut terkena imbasnya.

Produsen ponsel punya dua pilihan sulit. Pertama, mereka bisa menaikkan harga jual ke konsumen. Kedua, mereka harus menanggung sendiri kenaikan biaya itu. Keduanya sama-sama berisiko tinggi.

Jika harga jual naik, konsumen bisa menahan diri lagi. Mereka akan kembali menunda pembelian ponsel baru. Ini bisa membatalkan pertumbuhan 2% yang sudah dicapai tahun 2025. Jika mereka menanggung sendiri, laba perusahaan akan jatuh.

Melihat kondisi ini, pasar 2026 diprediksi akan sangat menantang. Situasinya jauh berbeda dengan tahun 2025. Perlu strategi yang benar-benar cerdas untuk bertahan. Semua perusahaan harus siap menghadapi kenyataan ini.

Strategi Bertahan di Tengah Tekanan

Lalu apa yang harus dilakukan vendor? Mereka harus lebih fokus pada efisiensi. Bukan hanya efisiensi produksi. Tapi juga efisiensi rantai pasok. Memastikan stok komponen selalu aman adalah kunci.

Inovasi tentu tidak boleh berhenti. Ponsel yang harganya mahal harus menawarkan nilai lebih. Fitur AI yang benar-benar berguna sangat dibutuhkan. Bukan sekadar gimmick sesaat yang tidak berdampak.

Konsumen sekarang sangat pintar. Mereka tahu kapan harus mengeluarkan uang banyak. Mereka akan berinvestasi hanya pada perangkat yang jelas memberi manfaat. Ponsel harus menjadi alat yang memudahkan hidup.

Para produsen kecil dan menengah harus lebih waspada. Mereka lebih rentan terhadap kenaikan harga komponen. Persaingan di pasar Asia, terutama Tiongkok, sangat ketat. Margin keuntungan mereka sudah tipis sekali dari awal.

Tahun 2026 adalah ujian sesungguhnya. Pertumbuhan 2% tahun 2025 hanyalah pemanasan. Sekarang giliran badai memori yang harus dihadapi. Siapa yang paling lincah, dialah yang akan selamat.

Ini bukan soal teknologi saja. Ini soal manajemen risiko dan harga. Manajemen risiko persediaan itu penting. Manajemen risiko harga komponen juga krusial. Itulah kunci untuk melewati tahun 2026 dengan selamat.

Kita akan lihat, siapa yang paling siap. Siapa yang paling pintar bernegosiasi harga memori. Siapa yang mampu meyakinkan konsumen untuk tetap membeli. Permainan baru saja dimulai.

Source: omdia.​com



#PasarSmartphoneGlobal #PrediksiTeknologi #HargaKomponen

Belanja Celana Boxer Cowok dan Cewek
LihatTutupKomentar
Cancel