BANG ANCIS - Sebuah peringatan keras datang dari jantung industri semikonduktor global. Qualcomm, raksasa di balik chip Snapdragon, angkat bicara soal masa depan ponsel pintar. Mereka melihat sebuah dilema yang akan sangat menentukan laju pasar. Kecerdasan buatan atau AI memang menjanjikan, tetapi ambisinya punya harga mahal.
Peringatan ini bukan sekadar bisik-bisik internal pabrikan. Ini adalah analisis jujur tentang biaya produksi yang terus melonjak. Lonjakan ini didorong oleh satu hal: nafsu AI yang tak terpuaskan terhadap memori. Saat AI masuk ke ponsel, permintaan memori dan penyimpanan data melonjak drastis.
| Gambar dari Pixabay |
Kenaikan biaya komponen inilah yang dikhawatirkan Qualcomm. Mereka melihat potensi melambatnya laju penjualan smartphone di seluruh dunia. Konsumen pasti akan berpikir dua kali untuk meng-upgrade ponsel mereka. Sebab, harga ponsel baru yang sarat fitur AI menjadi semakin tidak terjangkau.
Ancaman Baru di Era Kecerdasan Buatan
Qualcomm menyadari bahwa AI adalah masa depan gawai. Model AI generatif saat ini semakin sering dijalankan langsung di perangkat. Pemrosesan ini menuntut kecepatan transfer data yang ekstrem dan kapasitas penyimpanan yang masif.
Prosesor terbaru seperti seri Snapdragon 8 Gen 3 dirancang untuk tugas-tugas berat ini. Namun, kemampuan chip tidak akan maksimal tanpa dukungan memori yang sepadan. Di sinilah masalah biaya itu bermula dan menjadi sangat nyata.
Memori berkecepatan tinggi, seperti LPDDR5X, harganya tentu jauh lebih mahal. Demikian juga dengan kebutuhan penyimpanan data internal yang terus bertambah. Pabrikan kini dipaksa memasang spesifikasi memori yang jauh lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya.
Kebutuhan Memori yang Tak Terbendung
Mengapa AI begitu haus akan memori? Jawabannya terletak pada kompleksitas model bahasanya. Model AI yang berjalan on-device membutuhkan ruang yang besar. Mereka harus memuat data yang sangat banyak untuk bisa bekerja.
Bayangkan saja tugas seperti menghasilkan gambar secara instan atau menerjemahkan bahasa secara real-time. Semua itu tidak bisa dilakukan oleh RAM berkapasitas rendah. Kapasitas RAM standar kini harus bergeser naik.
Bahkan, memori penyimpanan internal juga harus ditingkatkan menjadi UFS 4.0. Kecepatan read and write yang tinggi sangat dibutuhkan. Ketiadaan memori cepat akan membuat pengalaman AI di ponsel menjadi lambat.
Pabrikan kini dituntut memasang minimal 12GB atau bahkan 16GB RAM untuk ponsel kelas atas. Padahal, beberapa tahun lalu, angka 8GB sudah dianggap sangat mewah. Kenaikan spek wajib ini mau tidak mau membuat Bill of Materials (BOM) pabrikan membengkak.
Dilema Pabrikan dan Konsumen
Kenaikan biaya komponen adalah masalah yang tak terhindarkan. Pabrikan memiliki dua pilihan yang sulit. Pertama, mereka menanggung sendiri kenaikan biaya itu dan memotong margin keuntungan. Tentu saja, ini adalah langkah yang sangat tidak disukai.
Pilihan kedua adalah yang paling sering diambil, yakni menggeser biaya tersebut ke konsumen. Harga jual eceran ponsel akhirnya terpaksa ikut naik. Inilah titik krusial yang diwaspadai oleh Qualcomm.
Jika harga ponsel baru terus melambung, konsumen akan menunda pembelian. Siklus penggantian ponsel pun menjadi lebih panjang dari biasanya. Akibatnya, volume penjualan smartphone secara keseluruhan akan terpengaruh.
Data menunjukkan bahwa pasar smartphone masih berjuang untuk pulih sepenuhnya. Hambatan biaya yang datang dari adopsi AI ini bisa menjadi hantaman baru. Konsumen mencari nilai, dan jika nilai AI tidak sepadan dengan harganya, mereka akan mundur.
Strategi Mengatasi Biaya Tinggi
Lantas, apa solusi yang ditawarkan dalam situasi ini? Industri harus mencari keseimbangan yang cerdas. Optimasi perangkat lunak bisa menjadi salah satu kuncinya. Perlu ada cara agar model AI bekerja efisien tanpa menuntut memori yang berlebihan.
Qualcomm sendiri sedang berfokus pada efisiensi pemrosesan. Chipset terbaru mereka dirancang agar AI berjalan dengan daya dan memori yang lebih hemat. Namun, ada batasan fisik yang harus dihadapi.
Solusi lain mungkin terletak pada model hybrid. Sebagian besar pemrosesan dasar dilakukan di perangkat. Sementara tugas AI yang sangat kompleks bisa dilempar ke cloud server. Pendekatan ini dapat sedikit meredakan tekanan pada memori lokal.
Namun, perusahaan tetap harus berhati-hati dalam strategi ini. Konsumen membayar mahal untuk janji AI yang instan dan privat. Jika terlalu banyak yang bergantung pada cloud, janji itu bisa jadi terasa kosong.
Peringatan Qualcomm adalah sebuah wake-up call bagi seluruh ekosistem. AI memang membawa terobosan. Tetapi, terobosan ini hadir dengan konsekuensi ekonomi yang nyata. Pasar harus beradaptasi dan menemukan harga yang tepat.
Industri smartphone kini berada di persimpangan jalan. Mereka harus menyeimbangkan antara inovasi teknologi dan kemampuan daya beli masyarakat. Jika tidak, "nafsu" AI terhadap memori bisa benar-benar menggerus laba industri. Ini adalah tantangan yang harus dihadapi oleh semua pihak, dari pembuat chip hingga penjual di toko retail.
Source: theregister.com
#KecerdasanBuatan #Qualcomm #PenjualanSmartphone

