BANGANCIS - Dulu, media sosial adalah etalase kehidupan yang riuh. Kita berlomba memamerkan pencapaian, momen bahagia, bahkan sekadar secangkir kopi yang fotogenik. Tujuannya jelas, berbagi dan terkoneksi. Kini, kabut keraguan mulai menyelimuti layar gawai kita. Ada yang salah, atau memang begitulah evolusinya?
Jejak Digital yang Berubah Makna
Pergeseran ini terasa halus namun pasti. Algoritma yang semakin cerdas kini lebih mengenali apa yang membuat kita bertahan menatap layar, bukan lagi apa yang ingin kita tunjukkan pada dunia. Status "bahagia" yang diposting bisa jadi hanyalah tameng untuk menutupi luka yang menganga. Lelucon receh yang dibagikan mungkin adalah cara untuk mengalihkan perhatian dari beban yang kian memberat.| Gambar dari >Pixabay |
#### Bahagia Palsu, Lelah Nyata Fenomena "kebahagiaan palsu" di media sosial bukan hal baru. Namun, kini dampaknya terasa lebih dalam. Kita melihat orang lain seolah memiliki kehidupan sempurna, padahal itu hanyalah cuplikan yang diseleksi dengan cermat. Kekosongan batin semakin terasa ketika realitas tak mampu menandingi citra digital yang dibangun.
#### Ruang Aman yang Semu Ironisnya, tempat yang dulu kita anggap sebagai ruang berbagi kini seringkali menjadi tempat pelarian. Kita tenggelam dalam linimasa tak berujung, mencari distraksi dari dunia nyata yang terasa terlalu berat untuk dihadapi. Interaksi yang dangkal menggantikan percakapan mendalam, meninggalkan rasa hampa yang semakin besar.
Algoritma dan Anatomi Ketergantungan
Tak bisa dipungkiri, algoritma memainkan peran penting dalam perubahan ini. Dirancang untuk memaksimalkan waktu layar, algoritma tak peduli apakah kita benar-benar menikmati apa yang kita lihat atau sekadar terjebak dalam pusaran konten. Notifikasi yang terus menerus muncul menjadi candu, menciptakan siklus ketergantungan yang sulit diputus.#### Filter Kehidupan yang Menyesatkan Di balik layar filter yang mempercantik wajah, ada realitas yang seringkali terlupakan. Citra diri yang terbangun di media sosial bisa jadi sangat berbeda dengan diri kita yang sebenarnya. Kesulitan menerima diri sendiri menjadi semakin besar ketika terus menerus terpapar dengan citra kesempurnaan yang mustahil dicapai.
#### Kehilangan Esensi Koneksi Dulu, media sosial menjanjikan koneksi tanpa batas. Kini, kita memiliki ribuan teman daring, namun merasa semakin kesepian. Perhatian yang terpecah, komentar yang singkat, dan reaksi emoji tak bisa menggantikan kehangatan tatapan mata dan sentuhan tangan. Kita terhubung secara digital, namun terasing secara emosional.
Media sosial telah bertransformasi. Ia bukan lagi panggung utama untuk berbagi kebahagiaan, melainkan seringkali menjadi dinding pembatas, tempat kita berlari dari diri sendiri. Pertanyaannya, kapan kita akan sadar dan mulai membangun kembali jembatan menuju koneksi yang otentik, baik di dunia maya maupun di dunia nyata? Kebahagiaan sejati tak pernah butuh filter.
#MediaSosial #PelarianDiri #KoneksiSemu

