IHSG Anjlok Drastis: Rekor Tertinggi Pecah, Investor Panik Ambil Untung, Apa Penyebabnya?

BANG ANCIS - Pasar saham Indonesia, yang dikenal dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), mengalami gejolak hebat pada Senin, 12 Januari 2026. Setelah sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high) di level 9.000,967 pada sesi pertama perdagangan, IHSG tiba-tiba anjlok tajam menjelang penutupan. Indeks sempat jatuh hingga 250 poin, menyentuh level terendah di 8.715,411. Pergerakan yang dramatis ini membuat banyak investor terkejut dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.

Titik Tertinggi dan Kejatuhan Mendadak

Gambar Ilustrasi Artikel
Gambar dari Pixabay

IHSG memulai hari perdagangan dengan performa yang sangat positif. Indeks dibuka menguat di level 8.991,760 dan terus menanjak, bahkan menorehkan rekor baru di atas 9.000. Namun, momentum positif ini tidak bertahan lama. Menjelang penutupan, tekanan jual mulai mendominasi, menyebabkan IHSG berbalik arah secara drastis. Pada pukul 14.39 WIB, indeks tercatat berada di level 8.840,307, turun 96,447 poin atau 1,08 persen. Anjloknya indeks ini dipicu oleh aksi ambil untung atau profit taking yang agresif dari para investor.

Aksi Profit Taking dan Beban Sektor Energi

Analis teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan bahwa koreksi tajam IHSG terutama dibebani oleh saham-saham di sektor energi. Sektor ini sempat terkoreksi sekitar 2 persen. Hal ini diperkirakan karena investor melakukan aksi ambil untung setelah sejumlah emiten energi mengalami penguatan signifikan sebelumnya. Meski demikian, tekanan jual tersebut tidak berlangsung secara berkelanjutan.

Volatilitas Pasar dan Sentimen Global

Herditya menambahkan bahwa setelah koreksi tajam, IHSG mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan dan bergerak rebound. Namun, pergerakannya masih berada di teritori negatif. Aktivitas transaksi di pasar saham terbilang ramai, seiring dengan tingginya volatilitas. Volume perdagangan mencapai 56,388 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 30,229 triliun. Frekuensi transaksi menyentuh 4.005.796 kali.

Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Pasar

Analis lain, Reydi Octa, mengaitkan pergerakan pasar yang bergejolak ini dengan aksi profit taking yang agresif. Kondisi ini diperparah oleh tekanan pada saham-saham energi. Namun, ia menilai aksi profit taking ini masih dalam batas kewajaran. Investor membutuhkan katalis yang kuat dan keberlanjutan untuk terus menguat dan bertahan di atas level 9000.

Peran Saham Energi dan Potensi Pemulihan

Tekanan jual yang terjadi tidak hanya berasal dari dalam negeri. Peningkatan tensi geopolitik global, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran, juga turut mempengaruhi pergerakan IHSG. Ketidakpastian global seringkali memicu investor untuk melakukan aksi jual dan mencari aset yang lebih aman.

Antisipasi Investor dan Proyeksi Masa Depan

Meskipun mengalami koreksi tajam, pasar saham Indonesia menunjukkan ketahanan. Setelah anjlok, IHSG berhasil memangkas koreksi dan menunjukkan indikasi rebound. Investor kini menantikan data inflasi AS yang akan dirilis pekan depan dan memantau pergerakan harga komoditas global. Perkembangan ini akan menjadi sentimen penting untuk pergerakan pasar selanjutnya. Para pelaku pasar perlu mencermati sentimen pasar hari ini dan sepekan ke depan, mengingat perdagangan yang relatif pendek karena adanya libur Isra Mi'raj.



#IHSG #Saham #BursaEfekIndonesia

Belanja Celana Boxer Cowok dan Cewek
LihatTutupKomentar
Cancel