BANGANCIS - Di era digital ini, kita kerap kali disuguhkan dengan narasi gemilang tentang kesuksesan yang diraih melalui kerja keras tanpa henti. Sebuah gaya hidup yang kerap disebut "hustle culture" ini menjanjikan impian-impian besar bisa terwujud jika kita rela mengorbankan segalanya demi tujuan. Namun, di balik kilau kesuksesan tersebut, tersembunyi sisi gelap yang bisa menggerogoti kesehatan mental kita secara perlahan, bahkan tanpa kita sadari.
Akar Kebiasaan "Hustle"
| Gambar dari >Pixabay |
Fenomena "hustle culture" ini sejatinya berakar dari keinginan manusia untuk diakui dan mencapai potensi terbaiknya. Media sosial memainkan peran besar dalam memperkuat citra ini, menampilkan sosok-sosok yang sukses luar biasa dengan jam kerja panjang dan dedikasi total. Budaya ini seringkali mengagungkan kesibukan sebagai simbol produktivitas dan keberhasilan, bahkan terkadang menjadikan lelah sebagai lencana kehormatan.
#### Tekanan Sosial dan Perbandingan
Tekanan untuk selalu terlihat produktif dan mencapai lebih banyak adalah pemicu utama. Kita terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain yang tampaknya selalu sibuk dan berprestasi. Perbandingan ini bisa menimbulkan rasa cemas dan tidak cukup, mendorong kita untuk terus bekerja lebih keras agar tidak tertinggal.
#### Ilusi "Harus Selalu Aktif"
Muncul sebuah ilusi bahwa kita harus selalu aktif, selalu produktif, dan tidak boleh berhenti. Istirahat atau jeda seringkali dianggap sebagai kemunduran atau tanda kemalasan. Padahal, tubuh dan pikiran manusia membutuhkan jeda untuk memulihkan diri dan berfungsi optimal.
Dampak Buruk pada Kesehatan Mental
Terlalu terperangkap dalam "hustle culture" dapat membawa konsekuensi serius bagi kesehatan mental kita. Rasa lelah fisik dan mental yang menumpuk, ditambah dengan minimnya waktu untuk relaksasi, dapat membuka pintu bagi berbagai masalah psikologis. Ini bukan tentang kemalasan, melainkan tentang menjaga keseimbangan agar kita tetap bisa berfungsi dengan baik dalam jangka panjang.
#### Sindrom Kelelahan (Burnout)
Salah satu dampak paling umum adalah sindrom kelelahan atau burnout. Tubuh dan pikiran kita mencapai titik jenuhnya, menyebabkan kelelahan ekstrem, hilangnya motivasi, dan perasaan sinis terhadap pekerjaan. Gejala ini bisa sangat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup secara drastis.
#### Kecemasan dan Depresi
"Hustle culture" yang menuntut kesempurnaan dan tanpa henti juga bisa memicu timbulnya kecemasan dan depresi. Rasa takut gagal, tekanan untuk selalu berkinerja tinggi, serta kurangnya waktu untuk bersosialisasi dan menikmati hidup dapat membebani mental. Keadaan ini perlahan mengikis kebahagiaan dan rasa damai.
#### Gangguan Tidur dan Fokus
Pola hidup yang selalu sibuk seringkali mengorbankan jam tidur. Kurang tidur yang kronis berdampak buruk pada fungsi kognitif, termasuk kemampuan fokus, memori, dan pengambilan keputusan. Hal ini justru bisa membuat kita semakin tidak produktif, menciptakan lingkaran setan yang sulit diputus.
#KesehatanMental #BudayaKerja #ProduktivitasBerlebihan

