Obsesi Otot Pria Muda: Waspada Bigorexia dan Bahaya Suplemen Pembentuk Badan

BANG ANCIS - Anak-anak muda sekarang punya standar baru. Dulu, mungkin cukup tampil rapi dan pintar. Sekarang, standar itu bergeser ke bentuk tubuh. Mereka ingin badan kekar, otot besar, dan sangat lean. Obsesi ini nyata sekali.

Bedak Pria
Gambar dari Pixabay

Mereka melihat media sosial. Di sana bertebaran foto-foto influencer dengan perut six-pack dan lengan segede gajah. Standar tubuh ideal laki-laki bergeser drastis sejak tahun 1990-an. Tekanan ini menciptakan masalah baru.

Ancaman Body Dysmorphia

Masalah itu bernama Muscle Dysmorphia. Beberapa orang menyebutnya Bigorexia. Ini adalah bentuk Body Dysmorphic Disorder. Penderitanya terobsesi untuk tampil lebih berotot, padahal fisiknya sudah sangat bagus.

Mereka melihat diri sendiri di cermin. Yang terlihat di mata mereka adalah tubuh yang masih kecil dan kurang kekar. Padahal, orang lain melihatnya sudah seperti binaragawan. Ini sebuah distorsi serius dalam pikiran.

Sayangnya, kondisi ini sedang naik daun. Terutama menjangkiti remaja laki-laki dan pria muda. Mereka merasa tekanan sosial untuk menjadi "kuat". Tuntutan ini memaksa mereka mengambil jalan pintas.

Jalan pintas itu adalah suplemen.

Suplemen dan Ketergantungan

Sebuah studi baru memberikan alarm keras. Penelitian ini menganalisis data dari ribuan anak muda. Rentang usianya 16 hingga 30 tahun. Hasilnya mengejutkan semua orang.

Delapan dari sepuluh orang ternyata pernah mengonsumsi suplemen. Suplemen ini dirancang untuk menambah massa otot. Ada Protein bars, whey protein shakes or powders, dan creatine. Ketiga jenis ini paling umum digunakan.

Masalahnya bukan pada suplemen itu sendiri. Masalah muncul karena penyalahgunaan dan jumlahnya. Semakin banyak jenis suplemen yang mereka minum, semakin parah gejala Muscle Dysmorphia yang muncul. Ini sudah terbukti secara data.

Peneliti bahkan mencatat angkanya. Penggunaan enam jenis suplemen berbeda, itu adalah titik bahaya. Kelompok ini menunjukkan gejala Muscle Dysmorphia paling banyak. Mereka sudah masuk fase obsesi.

Obsesi itu terlihat dari perilakunya.

Gejala yang Harus Diwaspadai

Penderita Bigorexia menunjukkan beberapa ciri khas. Salah satunya adalah waktu berlebihan di pusat kebugaran. Mereka bisa berjam-jam di sana, jauh di atas batas normal. Mereka juga sangat ketat soal diet.

Makanan dilihat hanya dari sisi makronutrien saja. Semua dihitung, dikontrol, bahkan sampai menimbulkan tekanan emosional. Mereka menghindari situasi sosial yang mungkin membuat fisik mereka dinilai. Atau bahkan memakai pakaian berlapis agar terlihat lebih besar.

Ini semua berujung pada kecemasan dan depresi. Kualitas hidup mereka menurun. Mereka terperangkap dalam lingkaran setan. Merasa kurang, minum suplemen, obsesi makin dalam, lalu makin tertekan.

Fokusnya sudah bukan kesehatan lagi. Fokusnya adalah citra tubuh yang terdistorsi. Media sosial memperparah ini. Influencer dengan tubuh hiper-maskulin terus mendorong citra yang tidak realistis.

Parahnya lagi, banyak suplemen tidak diuji ketat. Konsumen, terutama anak-anak muda, menjadi semacam kelinci percobaan. Mereka mempertaruhkan kesehatan fisik dan mentalnya demi ilusi otot sempurna. Keluarga dan pelatih harus jeli.

Mereka perlu menyadari.

Bahwa membangun otot itu perlu proses alamiah. Tidak bisa instan atau dipaksakan. Kesehatan mental harus jadi prioritas utama. Mengubah pola pikir jauh lebih penting daripada mengubah ukuran bisep.

Source: nbcnews.​com



#Bigorexia #SuplemenOtot #BodyDysmorphia

Belanja Celana Boxer Cowok dan Cewek
LihatTutupKomentar
Cancel