BANGANCIS - Di dunia yang penuh warna emosi, terkadang kita menemukan jiwa-jiwa yang terperangkap dalam pusaran kompleksitas hubungan. Salah satunya adalah fenomena yang membingungkan: mengapa korban dari seseorang yang narsistik sering kali merasa bersalah, padahal merekalah yang sebenarnya tersakiti? Ini bukan sekadar pertanyaan retoris, melainkan cerminan mendalam dari manipulasi psikologis yang lihai.
Jebakan Manipulasi Emosional
| Gambar dari >Pixabay |
Individu narsistik memiliki kemampuan luar biasa untuk memutarbalikkan kenyataan. Mereka ahli dalam permainan "gaslighting", membuat korban meragukan persepsi dan ingatan mereka sendiri. Ini adalah cara klasik untuk mengaburkan batas antara benar dan salah, sering kali dengan menyalahkan korban atas masalah yang sebenarnya diciptakan oleh pelaku.
Korban seringkali diajari untuk meragukan diri sendiri dan percaya bahwa mereka adalah sumber masalah. Narasi yang terus-menerus dibangun ini menciptakan fondasi rapuh bagi rasa percaya diri korban. Mereka mulai melihat diri mereka sebagai sosok yang "salah" atau "kurang", bahkan ketika perilaku mereka sepenuhnya rasional dan proporsional terhadap apa yang mereka alami.
Mekanisme Psikologis Korban
Ada beberapa mekanisme psikologis yang bekerja di balik perasaan bersalah yang aneh ini. Salah satunya adalah codependency, di mana korban menjadi terlalu bergantung pada validasi dari pelaku narsistik. Mereka mungkin terus berharap untuk mendapatkan penerimaan, bahkan jika itu berarti menanggung rasa sakit.
Selanjutnya, terdapat trauma bonding. Ini adalah ikatan emosional yang kuat yang terbentuk antara korban dan pelaku, sering kali diperkuat oleh siklus kekerasan dan kasih sayang yang tidak teratur. Dalam siklus ini, periode "honeymoon" yang singkat dapat memberikan harapan palsu, membuat korban merasa bahwa keadaan akan membaik, dan menyalahkan diri sendiri ketika hal buruk kembali terjadi.
#### Strategi Pemulihan Diri
Pemulihan dari hubungan narsistik adalah sebuah perjalanan panjang yang membutuhkan kesadaran dan keberanian. Langkah pertama yang krusial adalah mengakui dan memvalidasi pengalaman diri sendiri. Ini berarti berhenti meragukan persepsi dan menerima bahwa apa yang dirasakan adalah nyata.
Mencari dukungan eksternal adalah kunci. Terapi dengan profesional yang memahami dinamika narsistik dapat memberikan panduan dan alat yang dibutuhkan untuk memproses trauma. Jaringan dukungan dari teman atau keluarga yang terpercaya juga sangat berharga, memberikan pengingat bahwa korban tidak sendirian.
#### Membangun Kembali Identitas
Salah satu aspek terpenting dalam pemulihan adalah membangun kembali rasa identitas yang telah terkikis. Individu narsistik cenderung meremehkan dan mengontrol identitas korban. Proses ini melibatkan penemuan kembali minat, nilai-nilai, dan tujuan pribadi.
Menetapkan batasan yang sehat adalah fondasi penting untuk melindungi diri dari manipulasi di masa depan. Ini berarti belajar untuk mengatakan "tidak", mengkomunikasikan kebutuhan dengan jelas, dan melindungi ruang emosional diri. Memulihkan rasa bersalah yang tidak pada tempatnya adalah bagian dari proses ini, membebaskan diri dari beban yang tidak semestinya dipikul.
#Narsisme #Gaslighting #PemulihanTrauma

