Kenapa Orang Narsistik Selalu Merasa Jadi Korban (Playing Victim)?

BANGANCIS - Ada kalanya kita bertemu orang yang selalu merasa paling menderita, paling disakiti, bahkan ketika bukti di depan mata menunjukkan sebaliknya. Mereka memiliki bakat luar biasa untuk mengubah diri menjadi korban dalam setiap situasi, sebuah fenomena yang dikenal sebagai "playing victim" atau memainkan peran korban. Ini bukan sekadar keluhan biasa, melainkan sebuah pola perilaku yang dalam dan seringkali sulit dipahami, terutama ketika bersinggungan dengan sifat narsistik.

Kecenderungan menjadi korban ini seringkali berakar pada kebutuhan mendalam akan perhatian dan validasi. Orang dengan ciri narsistik memiliki citra diri yang rapuh di balik fasad kepercayaan diri yang berlebihan. Dengan menampilkan diri sebagai korban, mereka secara efektif mengalihkan fokus dari kekurangan atau kegagalan mereka sendiri. Ini juga merupakan mekanisme pertahanan untuk menghindari tanggung jawab atas tindakan atau perkataan mereka, karena siapa yang akan menyalahkan korban?

Gambar Ilustrasi Artikel
Gambar dari >Pixabay

Akar Psikologis: Egosentrisme dan Kebutuhan Pengakuan

Di balik sikap "playing victim" seringkali tersembunyi egosentrisme yang mendalam. Dunia mereka berputar di sekitar diri sendiri, dan segala sesuatu yang terjadi harus memiliki resonansi dengan pengalaman pribadi mereka. Jika ada masalah, itu pasti karena orang lain yang salah atau dunia yang tidak adil terhadap mereka. Kebutuhan untuk diakui dan dikagumi membuat mereka sulit menerima kritik atau mengakui kesalahan, sehingga peran korban menjadi jalan keluar yang paling aman.

Perasaan superioritas yang seringkali diasosiasikan dengan narsisme juga berperan. Mereka percaya bahwa mereka lebih baik dari orang lain, dan oleh karena itu, mereka tidak pantas mengalami kesulitan atau perlakuan buruk. Ketika sesuatu yang negatif terjadi, itu bertentangan dengan pandangan mereka tentang diri sendiri, sehingga menciptakan disonansi kognitif yang mereka selesaikan dengan meyakinkan diri sendiri dan orang lain bahwa mereka adalah pihak yang dizalimi.

Manipulasi dan Pengendalian: Senjata Tak Terlihat

Peran korban ini bukanlah sekadar keluhan pasif, melainkan sebuah strategi manipulatif yang cerdas. Dengan membuat orang lain merasa bersalah atau kasihan, mereka mendapatkan kendali atas situasi dan orang-orang di sekitar mereka. Simpati yang ditimbulkan seringkali digunakan untuk memanipulasi orang lain agar memenuhi keinginan mereka, memberikan perhatian yang mereka butuhkan, atau bahkan menghindari konsekuensi dari perilaku buruk mereka.

Mereka piawai dalam membangun narasi yang membuat mereka terlihat tak berdaya dan membutuhkan perlindungan. Setiap tindakan orang lain yang sedikit saja tidak sesuai dengan keinginan mereka bisa dibingkai sebagai serangan pribadi atau pengkhianatan. Hal ini menciptakan beban emosional pada orang lain, yang merasa bertanggung jawab untuk memperbaiki "kesalahan" mereka atau menghibur sang "korban".

Dampak Lingkungan: Lingkaran Negatif yang Terus Berputar

Pola "playing victim" ini seringkali diperkuat oleh lingkungan yang merespons dengan cara yang tidak sehat. Jika orang-orang di sekitar mereka selalu memberikan simpati berlebihan, membela tanpa bertanya, atau bahkan menyalahkan diri sendiri ketika sang narsistik memainkan peran korban, lingkaran negatif ini akan terus berputar. Mereka belajar bahwa berperilaku seperti korban adalah cara yang efektif untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Namun, pada akhirnya, perilaku ini merusak hubungan dan kesehatan mental orang-orang di sekitarnya. Kepercayaan terkikis, dan orang-orang mulai merasa lelah secara emosional karena terus-menerus dimanipulasi. Memahami akar dari fenomena "playing victim" pada orang narsistik adalah langkah awal untuk melindungi diri sendiri dan membangun interaksi yang lebih sehat.

Perbedaan Antara Korban Sejati dan Pemain Korban

Penting untuk membedakan antara seseorang yang benar-benar mengalami kesulitan dan berhak mendapatkan simpati, dengan seseorang yang sengaja memposisikan diri sebagai korban demi keuntungan pribadi. Orang narsistik yang memainkan peran korban cenderung berulang kali mengulang narasi yang sama, mengabaikan perspektif orang lain, dan tidak menunjukkan keinginan untuk menyelesaikan masalah secara konstruktif.

Mereka lebih tertarik pada perhatian dan validasi yang datang dari peran korban daripada pada penyelesaian masalah itu sendiri. Seringkali, ketika upaya untuk membantu mereka dilakukan, mereka akan menemukan alasan baru untuk tetap menjadi korban, karena kehilangan peran tersebut berarti kehilangan sumber perhatian dan pengendalian mereka.

Bagaimana Menghadapi Pola Ini

Menghadapi seseorang yang terus-menerus memainkan peran korban, terutama jika mereka memiliki ciri narsistik, membutuhkan keteguhan hati dan batasan yang jelas. Alih-alih terperangkap dalam permainan emosional mereka, cobalah untuk fokus pada fakta dan perilaku yang dapat diamati, bukan pada narasi emosional yang mereka bangun.

Hindari menyalahkan diri sendiri atau merasa bertanggung jawab atas perasaan mereka. Tunjukkan empati secukupnya tanpa membiarkan diri Anda dimanipulasi. Tetapkan batasan yang tegas mengenai apa yang dapat Anda terima dan apa yang tidak. Mengenali pola ini adalah langkah pertama untuk tidak menjadi bagian dari "panggung" mereka yang tak berkesudahan.



#Narsisme #PlayingVictim #Manipulasi

Belanja Celana Boxer Cowok dan Cewek
LihatTutupKomentar
Cancel