BANG ANCIS - Hari Valentine 2026 akan tiba sebentar lagi, tepatnya pada Sabtu, 14 Februari. Tanggal ini selalu menjadi sorotan, bukan hanya bagi pasangan kekasih, tetapi juga banyak orang yang ingin merayakan kasih sayang dalam berbagai bentuk. Perayaan yang identik dengan cokelat, bunga, dan kartu ucapan ini memiliki sejarah panjang yang ternyata berakar dari tradisi Romawi kuno dan kisah seorang tokoh bernama Santo Valentine.
Akar Sejarah Valentine
| Gambar dari Pixabay |
Tradisi Romawi Kuno: Lupercalia
Jauh sebelum menjadi hari kasih sayang seperti sekarang, pertengahan Februari di Roma kuno dirayakan dengan festival Lupercalia. Festival ini diadakan untuk menyambut datangnya musim semi dan berkaitan dengan ritual kesuburan. Salah satu tradisi uniknya adalah perjodohan wanita dengan pria melalui undian. Festival yang dianggap terlalu keras ini kemudian dilarang oleh Paus Gelasius I pada akhir abad ke-5 Masehi.
Kisah Santo Valentine
Sebagai pengganti Lupercalia, Paus Gelasius I menetapkan 14 Februari sebagai hari peringatan Santo Valentine. Santo Valentine sendiri adalah seorang pendeta pada abad ke-3 di Kekaisaran Romawi. Ia dikenal berani menentang kebijakan Kaisar Claudius II yang melarang prajurit muda menikah agar fokus berperang. Valentine menikahkan banyak pasangan secara diam-diam, namun akhirnya tertangkap dan dijatuhi hukuman mati pada 14 Februari. Konon, sebelum dieksekusi, ia menulis surat kepada putri sipir penjara dengan kalimat "From your Valentine," yang menjadi cikal bakal tradisi kartu Valentine.
Makna dan Tradisi Valentine di Era Modern
Perayaan Kasih Sayang Universal
Meskipun berakar dari tradisi Barat, Hari Valentine kini telah menjadi perayaan global. Maknanya pun meluas, tidak hanya sebatas cinta romantis antara pasangan, tetapi juga kasih sayang kepada keluarga, sahabat, bahkan rekan kerja. Pada tahun 2026, Valentine jatuh di hari Sabtu, memberikan kesempatan lebih untuk merayakannya dengan santai tanpa terganggu rutinitas.
Tradisi Unik di Berbagai Negara
Tradisi merayakan Valentine sangat beragam di seluruh dunia. Di Jepang, wanita membagikan dua jenis cokelat: Giri-choco untuk teman pria dan Honmei-choco untuk orang terkasih. Di Wales, tradisi bertukar "lovespoon" atau sendok kayu berukir sudah ada sejak abad ke-17 sebagai simbol kasih. Di Indonesia sendiri, perayaan ini tumbuh bersama budaya populer, di mana kado tidak hanya bernilai materi tetapi juga sarat makna emosional dan kenangan. Memberikan hadiah yang dipersonalisasi atau pengalaman bersama kini menjadi tren untuk memperkuat hubungan. Merayakan Valentine tidak harus mewah, cukup dengan perhatian tulus yang dibagikan kepada orang terkasih.
#HariValentine2026 #SejarahValentine #TradisiValentine

