Resign Dari Anugerah Photo Denpasar

"Abang sudah resign dari Anugerah?"  

Sebuah pesan tersesat di inbox akun facebook saya yang baru saja lolos dari ulah tangan-tangan jahil. Semoga Tuhan Memberkatimu, Jahil. Pesan tersebut ternyata datang dari seorang dara manis yang beberapa waktu lalu sempat memporakporandakan akal budi saya. Dia.. iya dia seorang gadis yang sering kupanggil Puti Andini, sebuah nama rekaan dalam cerita silat Wiro Sableng, yang juga rekaan belaka.

"Iya Ti. Masuk terakhir hari ini. Ada apa?"
 "Koq bisa? Gak ada angin, gak ada hujan.."
"Yah begitulah hidup, Ti. Manusia hanya boleh berencana, tapi yang menentukan hanya Tuhan. Banyak rencana abang yang belum kelar tapi mesti abang buang segera."
"Hikz.. aku ra percoyo. Pasti ada sesuatu. Ibue sakit lagi, ta? Atau masalah lagi kayak kemaren?" 
"Dua-duanya. Tapi, sudahlah Ti, lupakan. Abang sekarang lagi konsen untuk pulkam"
"Egois. Padahal aku loh ada rencana liburan nang Bali"
"Wah beneran? Kapan? Kasih kabar ya biar abang yang cariin tempat nginap"
"Libur Lebaran nanti. Kalo tempat nginap udah ada koq yang nyiapin. Gratis pokoe."
"Whew... mang siapa yang nyiapin? Baik banget...."
"Tunanganku..."

tut... tut... tut... (koneksi internet terputus)
ucapan perpisahan dari seorang sahabat, yang tidak pernah frontal, sahabat yang berpendidikan,
David Rex Arykson (Facebook)
Yah... apa yang saya alami hari ini merupakan buah dari keputusan yang sudah saya ambil sejak sebulan yang lalu. Resign. Tiba-tiba dan tanpa pikir panjang. Mestinya kejernihan pikiran, dialog, dan kontrol adalah langkah-langkah yang harus ditempuh, guna membuat keputusan yang tepat, sesuai dengan keadaan sebagaimana adanya. Tapi itu semua tidak saya lakukan. Buat saya, dalam mengambil keputusan, apalagi terhadap masalah-masalah sepele yang kurang jelas akar serabutnya tidak perlu perencanaan yang matang. Saya menyebutnya masalah sepele karena sampai hari ini, 25 Mei 2015 hari dimana saya resmi mengundurkan diri, jujur saja saya belum paham letak pokok masalah yang membuat saya seperti orang asing, yang membuat saya merasa diawasi, selain masalah kesehatan ibu kandung saya yang konon katanya hanya sebuah alasan klise. Semprul...!!!

Hmmmm.. ternyata berat, kawan. Berat ketika harus meninggalkan semua sahabat, baik yang peduli, cuek maupun yang acuh tak acuh. Lebih berat lagi harus meninggalkan majikan beserta keluarga  yang sudah saya ikuti hampir 8 tahun. Kalau bukan kepercayaan dari mereka, saya tidak mungkin bisa "Serabutan" seperti ini. Tapi sudahlah. Palu sudah diketok. "Sampai kapan terus bekerja dengan orang?" Begitu kata Bapak via telpon. Keputusan harus diambil. Apapun itu, karena keputusan kadang melahirkan kebahagiaan.Good Luck, Bang...

"Akh, gara-gara teman, laptop, PC dan ponsel terpaksa harus saya instal ulang.. ada saran?"
Ads??
Info Menarik Lainnya:

Related Posts:

0 Response to "Resign Dari Anugerah Photo Denpasar"

Post a Comment

Don't Spam

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *