Cerai Untuk Ceria

Akh, tidak terasa sudah hampir dua minggu blog ini tidak saya gerayangi penuh napsu. Paling-paling cuma login sekedar approve komentar-komentar yang pending, setelah itu langsung logout dan login di tempat lain. Dan herannya, di tempat lain itu saya malah berlama-lama. Bukan sosial media, bukan pula situs-situs dewasa. sebenarnya masih sama dengan blogger.com, hanya saja magnetnya begitu kuat sehingga saya jadi berlama-lama nongkrong di sana. Hehehe.. (maaf kalo jarang plesir ke blog-blog sahabat).

Okelah... barangkali hanya sepenggal itu dulu kalimat pembuka dari saya. Kali ini saya tidak ingin menulis seserius atau seiseng yang kemarin-kemarin. Ada sebuah cerita yang iseng saya copas untuk saya pajang di sini. Yah hitung-hitung biar ada kesan sering update begitu. Hahaha... langsung saja ya baca cerita pendek yang saya copas dari seorang teman di Facebook di bawah ini.

Cerai Ceria
by Opu Blake Ansis
Cerai Ceria
Mas Tiwul bersikeras ingin menceraikan istrinya, Wulan. Alasannya klasik, sama seperti alasan-alasan para selebriti yang kawin cerai yakni Sudah Tidak Ada Kecocokan Lagi. Padahal, Sudah hampir 8 tahun keduanya hidup berumahtangga bersama buah hati mereka.

Suatu pagi, sebelum berangkat ke kantor, sambil menghirup kopi hitam buataan Wulan, isteri yang mau diceraikannya dan setelah menarik napas panjang, Tiwul membuka pembicaraan.

"Sayang, maafkan aku, sepertinya kisah kita cukup sampai di sini saja. Aku ingin cerai"

"Memangnya kenapa? Apa salahku? Apa yg kurang dariku?" Hardik Wulan. Kaget bercampur panik.

"Tidak ada salahmu, juga tidak ada kurangmu. Aku cuma merasa.. hmmmm.. kita sudah tak cocok lagi. Mungkin kamu bukan jodohku" Jawab Tiwul santai.

"Apa??" Si Wulan kaget bukan kepalang mendengar alasan suaminya meminta cerai. "Bukankah jodoh setiap orang cuma satu? Tuhan sungguh tak adil jika memberimu jodoh lebih dari satu"

"Bisa saja, mungkin kamu adalah jodohku yang palsu. Aku ingin dapatkan yang original"

"Berarti anak-anak kita adalah anak-anak palsu? Aku dan anak-anakmu ini bukanlah barang. Katakan, katakan dengan jujur, siapa yang tega membuatmu lupa dengan isteri, anak dan rumahmu?"

"Dia, dia yang selalu membara di hatiku"

"Dia? Siapa dia? Aku ingin menonjok wajahnya"

"Dia, inisialnya N" Jawab Tiwul santai penuh kejujuran.

"N" siapa? Nining, Neneng, atau Ningsih? Ayo, cepat katakan"

"Bukan itu sayang. Dia yg berinisial "N" itu adalah Napsu. Napsu begitu ganas melumpuhkan ingatanku tentangmu, tentang janji kita dulu. Melumpuhkan ingatanku terhadap buah hati kita"

"Apa? Napsu? Hahaha... Kau pikir aku tidak punya Napsu? Ketahuilah, justru karena kamu jarang di rumah, makanya tidak tahu kalau si "N" yang mendekam dalam tubuh dan jiwa raga ini juga sungguh sangat membara"

"Ah, benarkah sayang? Benarkah kau juga menyimpan si "N" dalam dirimu? Kalau begitu, mari kita bunuh si dia berinisial "N" itu, kurangajar sekali dia.."

Wulan gembira. Dia sukses membalikan posisi huruf "a" dan "i" pada kata "cerai" menjadi "ceria". Lalu, bagaikan seekor kuda liar dia menyeret Mas Tuwil ke dalam kamar.

#Masih jam 10 pagi, tapi kedua insan ini tiba tiba menutup pintu dan jendela. Mungkin mereka tidak mau aksi pembunuhan "N" ini diketahui oleh siapapun. Mungkin saja...

"Mumpung anak-anak masih di sekolah jadi kita bunuh si "N" skrg saja ya sayang?" ucap Wulan liar.

Rumah mungil itu pun seketika senyap. Hanya sesekali terdengar bunyi-bunyian tidak jelas. Bunyi-bunyian yang menggetarkan hati dan lutut saya yang saat itu sedang bersembunyi di atas loteng rumah mereka.

"Akh....mana si "N"ku? Ingin kubunuh juga dia" Gumamku.

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel