Lanjutkanlah Ceritamu, Tantri!!

Rupanya percakapan kita sudah habis. Dialog apa yang bisa saling rindu? Percakapan tampak tak jelas. Kisah antara kita hanya tentang makan dan tidur. sangat nista perpisahan itu! Mengubahmu menjadi dingin, ragu menceriterakan masalahku, dan sama sekali membuatku bingung.  

"Di rantau, semestinya banyak cerita yang kau ungkapkan. Kau hanya mengirim sebaris puisi yang tak bisa kuurai."

Kau lewatkan berita pagi saat kampanye calon pemimpin. Kau pernah berjanji bicara soal kemenangan dan kekalahan mereka dengan dengan segala konfliknya. Koran-koran akan segera dipungut anak-anak kecil itu. Mereka tampaknya sangat mau tahu, di matanya lapar dan penghidupan melumat segala isi tas sekolahnya. Mereka tidak peduli isi kertas-kertas itu.
Lanjutkanlah Ceritamu, Tantri!!
Mereka hanya ingin mengumpulkan dan menjualnya. Mereka mungkin tidak pernah berkaul akan datang ke Monas seperti yang kau lakukan. Mereka pasti tidak pernah sempat membaca pusi di Monas saat kau sembuh dari rasa sakit.

Bocah malang yang ada di hadapanmu setiap kali kau trsesat di kota itu, adalah aku. Aku membayangimu dengan maksud yang biasa, meminta. Hanya bedanya, aku meminta agar kau bercerita! Dan bocah itu meminta uang saku untuk menelusiri jalan-jalan di kota itu.

Kau pernah bercerita dengan suara bisik-bisik, sebagai rasa hormat, kau harus memelankan suaramu karena ada kawan barumu yang berdoa. Aku sangat senang mendengar suaramu. Lalu apa? Lanjutkanlah ceritamu, Tantri!!

Oleh : http://luhariksariadi.blogspot.com/

ingin cerita/puisi atau apa saja milik anda dibaca orang, maen-maenlah ke sini : Submit Artikel.

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel