Gadis Yang Pernah Kulukis

Akhirnya setelah sekian hari pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) untuk tahun ajaran 2020/2021 yang melelahkan itu berakhir juga. Selama itu pula saya jadi jarang menggerayangi blog ini. Sekedar login pun tidak sempat. Hanya bisa mondar mandir di sosmed facebbok sekedar melepas lelah.

Hari ini saya sengaja login dashboard blogger untuk melihat-lihat. Kebetulan ada tulisan yang sudah saya tulis sejak dahulu kala yang selama ini nangkring di draft. Tulisan ini merupakan hasil curhatan seorang teman. Dari pada blog tidak diupdate dengan artikel, saya memutuskan untuk memperbaiki seperlunya mempublishnya. Dan ini hasilnya :
Gadis Yang Pernah Kulukis

Gadis Yang Pernah Kulukis

Kami tidak lagi bertemu sekitar 20 tahun lebih. Saya mengenalnya waktu masih akil balik. Ketika sama-sama mendaftar masuk sekolah. Waktu itu saya masih lugu, kotor, dekil dan pemalu. Maklum anak kampung. Sedangkan dia jauh berbeda.

Waktu itu, dia adalah bidadari bagiku. Kulitnya putih terawat. Rambut lurus sebahu. Punya lesung pipit. Bisa mencapai 2 km DPL. Dia sosok gadis yang murah senyum dan pandai bergaul. Giginya sedikit coklat keabu-abuan. Sepintas mirip warga keturunan Tionghoa. Tapi Bukan. Dia orang Indonesia asli. Campuran Flores-Dayak.

Meski satu sekolah dan tinggalnya di kompleks yang sama tapi tidak membuat kami akrab. Kami malah jarang bertemu. Jika sesekali berpapasan saya malah gemetar. Semacam ada gempa kalau berada di dekatnya. Saya lebih banyak menghindar lalu mencuri pandang. Entahlah. Padahal kakak perempuan kami berteman akrab. Seperti saya dan dia, kakak perempuan kami juga 1 sekolah, SMA.

Ada yang lucu ketika berada di bangku kelas 2 SMP. Kami sekelas. Tempat duduk kami sangat dekat. Saking dekatnya membuat saya bisa melihat dengan jelas wajahnya. Urat-urat hijau di wajahnya menambah kekaguman saya. Sialnya saya tetap diam. Saya tetap pada siapa saya yang sebenarnya. Cuek. Mungkin malu. Mungkin juga ragu.

Pernah sehari saya membuat geger seisi kelas lantaran melukis wajahnya. Iya saya melukis wajahnya di lembar pertama buku tulis Pelajaran Agama. Entah setan apa yang merasuki, coretan tangan saya malah langsung dikenali. Teman-teman lantas menjodoh-jodohkan kami berdua.

Saya malu. Gemetar dan emosi. Mungkin karena ketahuan Falling in Love. Sejak saat itu saya lantas mengubur semuanya. Tegur sapa mulai jarang hingga akhirnya kami tamat dan menghilang bertahun-tahun. Tanpa saling kabar tentunya.

Dua tahun belakangan kami bertemu di Facebook. Dia sudah berkeluarga. Badannya yang dulu aduhai memanjakan mata saat ini terlihat begitu makmur. Jarang selfie. Kebanyakan foto anak-anaknya yang diekspos di beranda facebook.

Saya lantas mengirimi permintaan pertemanan. Diapprove. Namun belum sempat ngobrol ini dan itu, suaminya malah memblokir saya hingga saat ini.

Apakah menyakitkan diblokir? Akh Tidak juga. Sakit karena apa?
__________________________
Jl. Dharmawangsa, Gubeng, Surabaya
02 Maret 2013
loading...
LihatTutupKomentar

4 Komentar

  • Agus Warteg 1.8.20
    Jangan jangan suaminya itu teman sekelas bang Ancis, makanya tahu Abang pernah melukis wajahnya dan dia ngga mau Abang berteman dengan istrinya, tapi entahlah itu hanya dugaan saja sih.

    Saya juga pernah kenalan akrab dengan seorang cewek di Facebook. Kami sering ngobrol tak jelas dan bercanda. Tapi sejak dia menikah entah hilang kemana. Eh ngga tahunya diblokir.🤣🤣🤣
    • Bang Ancis 1.8.20 ?
      Hahahaa kurang tau juga Bro.. Masalahnya suaminya yang mana saya blm lihat mukanya.. Kalau masalahnya Mas Agus, seperti itu kayaknya suaminya tuh tang ngeblokir...
  • Maxger 1.8.20
    Wah curhatan teman atau kisah sendiri, Bang?
Cancel